Setapak Langkah – 18 April 2026 | Universitas Brawijaya (UB) resmi memperkenalkan BOUMI, sebuah merek perawatan kulit khusus untuk anak-anak yang berfokus pada bahan-bahan alami. Acara peluncuran diadakan di Omah UB dan dihadiri oleh para peneliti, mahasiswa, serta perwakilan industri kecantikan.
BOUMI dikembangkan oleh tim riset Fakultas Kedokteran dan Farmasi UB yang telah melakukan riset selama tiga tahun. Produk ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan kulit sensitif pada anak usia 1‑12 tahun, dengan mengutamakan keamanan dan efektivitas.
Komposisi Utama
- Ekstrak Bunga Chamomile: menenangkan peradangan dan mengurangi kemerahan.
- Madu Lokal: memberikan hidrasi alami serta sifat antibakteri.
- Minyak Kelapa Organik: melindungi lapisan kulit dengan nutrisi esensial.
- Aloe Vera: membantu proses penyembuhan kulit yang iritatif.
Semua bahan dipilih dari petani lokal di Jawa Timur, sehingga mendukung ekonomi daerah sekaligus memastikan kualitas bahan baku yang tinggi.
Keunggulan Produk
| Fitur | Manfaat |
|---|---|
| Tanpa Paraben, Sulfat, dan Pewarna Sintetis | Meminimalisir risiko alergi pada kulit anak. |
| pH Seimbang (5,5-6,5) | Menjaga keseimbangan asam basa kulit. |
| Dermatologist Tested | Terjamin keamanannya melalui uji klinis. |
Produk BOUMI tersedia dalam tiga varian: pembersih wajah, krim pelembab, dan sunscreen SPF 30. Setiap varian dikemas dalam botol plastik daur ulang yang ramah lingkungan.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Budi Santoso, menyatakan, “Peluncuran BOUMI menunjukkan sinergi antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Kami berharap produk ini tidak hanya melindungi kulit anak, tetapi juga menjadi contoh inovasi berkelanjutan di Indonesia.”
Harga eceran BOUMI ditetapkan pada kisaran Rp45.000‑Rp120.000, menargetkan segmen kelas menengah yang mengutamakan produk alami. Penjualan pertama dijadwalkan melalui toko daring resmi UB serta jaringan apotek mitra pada kuartal berikutnya.
Dengan langkah ini, Universitas Brawijaya memperkuat perannya sebagai pusat inovasi teknologi kesehatan, sekaligus membuka peluang kerjasama lebih luas antara akademisi, industri, dan petani lokal.