Setapak Langkah – 18 Mei 2026 | Menurut mantan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, blok tersebut kini kehilangan relevansi di kancah geopolitik internasional. Borrell menyoroti serangkaian kegagalan struktural yang menghambat kemampuan Uni Eropa untuk bertindak secara efektif dalam menghadapi tantangan global.
Berikut tiga alasan utama yang menjadi dasar pernyataan tersebut:
- Pengambilan keputusan yang ceroboh
Borrell mengkritik proses pembuatan kebijakan yang sering kali terkesan terburu‑buruan dan tidak didasarkan pada analisis mendalam. Keputusan penting seperti respons terhadap krisis energi atau sanksi terhadap negara tertentu kerap diambil tanpa konsensus yang kuat, menimbulkan ketidakpastian bagi anggota dan mitra internasional. - Ketidakmampuan menyepakati isu‑isu kunci
Berbagai topik strategis—misalnya kebijakan pertahanan bersama, regulasi digital, dan perubahan iklim—sering kali terhambat oleh perbedaan kepentingan nasional. Perdebatan yang berlarut‑lurus mengakibatkan blok ini gagal menghasilkan kebijakan koheren yang dapat diimplementasikan secara seragam. - Kurangnya kepemimpinan yang terpusat
Tanpa tokoh atau institusi yang mampu mengarahkan agenda secara tegas, Uni Eropa terpecah antara kepentingan besar negara anggota dan aspirasi kebijakan bersama. Hal ini memperlemah posisi UE dalam negosiasi multilateral dan memberi ruang bagi kekuatan lain seperti Amerika Serikat, China, atau Rusia untuk mendominasi arena geopolitik.
Akibatnya, Uni Eropa semakin dipandang sebagai entitas yang reaktif alih-alih proaktif, mempengaruhi persepsi global tentang kemampuan blok ini dalam memimpin perubahan. Jika tidak ada reformasi mendasar dalam mekanisme pengambilan keputusan dan upaya memperkuat solidaritas internal, risiko kehilangan pengaruh akan terus meningkat.