Setapak Langkah – 28 April 2026 | Seorang pegawai rumah sakit RSUD Kota Bekasi menangis terisak ketika mengetahui temannya menjadi korban kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026. Kecelakaan tersebut melibatkan sebuah kereta penumpang yang menabrak rel dan menumpahkan penumpang, menewaskan beberapa orang serta melukai banyak lainnya.
Korban yang merupakan rekan kerja sang pegawai adalah seorang pria berusia 34 tahun yang bekerja di bagian administrasi. Ia dirawat di RSUD Bekasi dengan luka berat di kepala dan bagian tubuh lainnya. Tim medis menyatakan kondisi korban kritis dan memerlukan perawatan intensif.
Rekan kerja yang bersangkutan, yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku sangat terkejut dan tidak dapat menahan emosi saat mendengar kabar duka itu. “Saya masih tidak percaya. Kami bekerja bersama setiap hari, dan tiba‑tiba dia berada di tempat kejadian,” ujarnya dengan suara bergetar.
Selain tangisan, suasana di ruang gawat darurat RSUD Bekasi tampak tegang. Beberapa staf medis berusaha menenangkan keluarga korban sekaligus memberikan perawatan terbaik. Pihak rumah sakit juga menyiapkan ruang khusus bagi keluarga yang membutuhkan dukungan psikologis.
Insiden ini memicu pertanyaan tentang keselamatan transportasi kereta api di wilayah Jawa Barat. Sejak awal tahun 2026, terdapat tiga kecelakaan kereta yang melibatkan kerusakan rel atau kegagalan sinyal, yang menimbulkan kekhawatiran publik.
- 27 April 2026 – Stasiun Bekasi Timur, kereta penumpang menabrak rel, 5 korban meninggal, 23 luka-luka.
- 12 Februari 2026 – Stasiun Cikarang, kereta tergelincir karena hujan deras, 2 korban meninggal.
- 5 Januari 2026 – Stasiun Depok, kegagalan sinyal menyebabkan tabrakan, 1 korban meninggal.
Pihak kepolisian dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah membuka penyelidikan untuk mengidentifikasi penyebab pasti kecelakaan tersebut. Sementara itu, Kementerian Perhubungan berjanji akan meningkatkan inspeksi rutin pada infrastruktur kereta api guna mencegah tragedi serupa di masa mendatang.
Kasus ini sekaligus menyoroti pentingnya dukungan mental bagi pekerja yang terkena dampak langsung atau tidak langsung dari kecelakaan. Rumah sakit dan perusahaan tempat korban bekerja berencana mengadakan konseling bagi karyawan yang merasa terganggu secara emosional.