Setapak Langkah – 27 Juli 2026 | Iran menyatakan bahwa selama periode konfrontasi dengan Amerika Serikat, negara tersebut berhasil mengumpulkan pendapatan sekitar USD 18 miliar dari penjualan minyak, setara dengan kira‑kira Rp323 triliun. Angka ini menandai pencapaian signifikan bagi sektor energi Iran meski berada di bawah tekanan sanksi internasional.
Berikut rangkuman utama terkait pencapaian tersebut:
- Periode konflik: masa ketegangan militer dan diplomatik antara Iran dan AS sejak awal 2020-an.
- Volume ekspor: diperkirakan Iran mengekspor lebih dari 2,5 juta barel minyak per hari selama periode tersebut.
- Harga minyak: rata‑rata harga minyak mentah dunia selama masa konflik berada di kisaran US$70‑80 per barel, yang turut meningkatkan total pendapatan.
Data keuangan dapat dilihat dalam tabel berikut:
| Ukuran | Nilai |
|---|---|
| Pendapatan (USD) | USD 18 miliar |
| Pendapatan (IDR) | Rp 323 triliun |
Meski pendapatan ini tampak mengesankan, Iran tetap harus menghadapi tantangan besar dalam mengelola dana tersebut, termasuk kebutuhan untuk membiayai program pertahanan, memperkuat cadangan devisa, dan mengatasi dampak sanksi yang masih membatasi akses ke sistem keuangan internasional.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa pendapatan minyak yang tinggi dapat memberikan ruang fiskal sementara bagi pemerintah Iran, namun ketergantungan pada sektor energi tetap menjadi risiko bila harga minyak turun atau sanksi semakin ketat.