Setapak Langkah – 21 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam hingga mencatat titik terendah sepanjang masa, memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku pasar dan masyarakat.
Calon Presiden 2024, Anies Rasyid Baswedan, menyoroti kondisi ekonomi domestik yang semakin memburuk akibat melemahnya rupiah. Ia menekankan perlunya pemerintah mengambil langkah serius untuk mengatasi tekanan ekonomi yang semakin intens.
Penyebab utama penurunan rupiah meliputi kebijakan moneter di negara maju, terutama peningkatan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat, penurunan harga komoditas ekspor, serta arus keluar modal asing yang mencari aset berisiko lebih rendah.
Dampak langsungnya terasa pada harga barang impor, biaya produksi, dan pada akhirnya inflasi yang menggerus daya beli konsumen. Selain itu, beban pembayaran utang luar negeri juga menjadi lebih berat bagi pemerintah.
Anies mengusulkan beberapa langkah strategis, antara lain:
- Menguatkan kebijakan fiskal dengan mengurangi defisit anggaran dan menahan belanja yang tidak produktif.
- Koordinasi yang lebih intensif antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan dalam mengelola likuiditas pasar.
- Diversifikasi ekspor ke produk bernilai tambah tinggi untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.
- Meningkatkan iklim investasi dengan memberikan kepastian hukum dan insentif bagi sektor manufaktur.
- Memperkuat cadangan devisa melalui peningkatan penerimaan pajak dan restrukturisasi hutang.
Dengan mengimplementasikan kebijakan tersebut, diharapkan nilai tukar rupiah dapat stabil kembali, inflasi terkendali, dan pertumbuhan ekonomi kembali berada pada jalur positif.
Pemerintah diharapkan tidak hanya merespon gejolak jangka pendek, melainkan juga menyiapkan reformasi struktural jangka panjang untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di pasar global.