Setapak Langkah – 23 Mei 2026 | Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa anggota NATO telah mencapai kesepakatan untuk membahas rencana cadangan operasional di Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah Iran mengancam akan menutup selat strategis tersebut sebagai respons terhadap sanksi internasional.
Rubio menekankan pentingnya koordinasi bersama NATO dalam menyiapkan skenario darurat yang meliputi patroli maritim tambahan, penempatan kapal perang, serta latihan bersama untuk memastikan kelancaran arus perdagangan minyak dan gas dunia. Ia menambahkan bahwa setiap gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi global.
Beberapa negara anggota NATO, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, menyambut baik inisiatif tersebut dan berkomitmen untuk menyumbangkan sumber daya serta intelijen. Di sisi lain, Iran menolak keras intervensi militer asing dan menegaskan kedaulatan atas perairan di sekitarnya.
Jika rencana cadangan ini diimplementasikan, diperkirakan akan meningkatkan kehadiran militer NATO di wilayah Teluk Persia, sekaligus memberikan sinyal deterrence kepada pihak yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa tindakan ini harus diimbangi dengan diplomasi intensif untuk mencegah eskalasi konflik.
Para analis energi memperkirakan bahwa stabilitas Selat Hormuz tetap menjadi faktor kunci bagi pasar minyak dunia. Oleh karena itu, keputusan NATO untuk membahas rencana cadangan dapat menurunkan ketidakpastian pasar, meskipun dampaknya masih tergantung pada respons Iran dan dinamika politik regional.