Setapak Langkah – 25 April 2026 | Revitalisasi cagar budaya menjadi sorotan utama para akademisi, pemerintah, dan komunitas lokal setelah menurunnya nilai fungsional situs-situs bersejarah. Ahmad Athoillah, dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, menekankan bahwa upaya pemugaran tidak cukup hanya sekadar memperbaiki bangunan, melainkan harus menghasilkan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.
Berikut beberapa poin penting yang harus dipertimbangkan dalam setiap program revitalisasi cagar budaya:
- Pelestarian pengetahuan: Mengembangkan program edukasi bagi sekolah dan masyarakat agar warisan sejarah dapat dipahami dan dihargai.
- Peningkatan ekonomi: Membuka peluang usaha mikro, seperti kerajinan tangan, kuliner tradisional, dan jasa pemandu wisata, yang dapat meningkatkan pendapatan warga.
- Pemberdayaan komunitas: Melibatkan penduduk lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan situs, sehingga rasa memiliki meningkat.
- Pengembangan infrastruktur: Menyediakan fasilitas dasar seperti akses transportasi, sanitasi, dan keamanan yang mendukung kunjungan wisatawan.
- Pengawasan dan pemeliharaan: Menetapkan mekanisme monitoring jangka panjang untuk mencegah kerusakan kembali.
Contoh sukses yang sering dikutip adalah revitalisasi kampung tradisional di Yogyakarta, dimana integrasi antara pelestarian arsitektur dan program pelatihan kerajinan menghasilkan peningkatan pendapatan rumah tangga hingga 30 persen dalam tiga tahun pertama.
Namun, tantangan tetap ada. Sering kali, dana yang dialokasikan terbatas, dan koordinasi antar lembaga belum optimal. Oleh karena itu, Athoillah menyerukan kolaborasi lintas sektor—pemerintah, swasta, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil—untuk menyusun kebijakan yang bersifat inklusif dan berkelanjutan.
Dengan menempatkan manfaat sosial dan ekonomi sebagai tolok ukur utama, revitalisasi cagar budaya dapat bertransformasi menjadi motor pertumbuhan daerah, sekaligus melestarikan identitas budaya yang menjadi kebanggaan bangsa.