Setapak Langkah – 07 Juni 2026 | Untuk memperingati Bulan Bung Karno, sebuah acara nonton bareng (nobar) film “Ghost in the Cell” diselenggarakan di Jakarta. Acara ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menjadi platform diskusi tentang peran seni dalam mengkritisi realitas sosial.
Acara tersebut dipandu oleh Once Mekel, yang menegaskan bahwa seni harus menjadi ruang yang terbuka bagi kebebasan berekspresi dan pemikiran kritis. Menurutnya, kebebasan artistik sejalan dengan semangat kemerdekaan yang diusung oleh Bung Karno, dimana seni dapat menjadi cermin sekaligus alat perubahan.
Selama sesi tanya jawab, beberapa poin penting disorot, antara lain:
- Ruang kebebasan berekspresi harus dilindungi dari tekanan politik maupun komersial.
- Seniman diharapkan mampu menyalurkan pesan kritis melalui bahasa visual yang mudah dipahami.
- Penonton memiliki peran aktif sebagai penerima dan pengkritik karya seni.
- Kebijakan budaya perlu mendukung keberagaman suara dalam industri kreatif.
Film “Ghost in the Cell” sendiri mengangkat tema teknologi dan identitas manusia, yang dianggap relevan dengan tantangan era digital Indonesia. Dengan menonton bersama, peserta diharapkan dapat meresapi pesan film sekaligus memicu refleksi pribadi tentang peran seni dalam kehidupan sehari-hari.
Acara ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno yang melibatkan berbagai kegiatan budaya, edukasi, dan sosial. Penyelenggara berharap inisiatif semacam ini dapat terus memperkuat dialog antara seniman, akademisi, dan masyarakat luas, sejalan dengan visi Bung Karno tentang bangsa yang berpikir kritis dan kreatif.