Setapak Langkah – 29 Maret 2026 | Jakarta, 29 Maret 2026 – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Prabowo Subianto akan melaksanakan kunjungan kerja ke Jepang dan Korea Selatan pada pekan depan, dengan didampingi oleh Raja Juli, tokoh budaya dan seni yang kini menjadi duta soft power Indonesia. Kunjungan ini dijadwalkan berlangsung selama enam hari, mencakup serangkaian pertemuan bilateral, forum investasi, serta acara budaya yang dirancang untuk memperkuat hubungan strategis antara ketiga negara.
Raja Juli, yang dikenal luas karena kontribusinya dalam mempromosikan kebudayaan Nusantara di panggung internasional, dipilih sebagai pendamping Prabowo untuk menambah dimensi budaya dalam agenda diplomatik. Kehadirannya diharapkan dapat menambah nilai simbolik pada setiap pertemuan, sekaligus membuka peluang kerjasama di sektor kreatif, pariwisata, dan industri kreatif yang semakin menjadi sorotan dalam kebijakan ekonomi nasional.
Agenda Kunjungan Kerja
- Hari 1-2, Tokyo: Prabowo dan Raja Juli akan bertemu dengan Perdana Menteri Jepang serta pejabat senior Kementerian Luar Negeri untuk membahas kerjasama di bidang teknologi hijau, keamanan siber, dan perdagangan barang manufaktur. Pada sore hari, keduanya akan menghadiri gala dinner yang menampilkan pertunjukan seni tradisional Indonesia, termasuk tari Jawa dan gamelan, sebagai wujud pertukaran budaya.
- Hari 3, Osaka: Fokus pada sektor industri otomotif dan robotik. Delegasi Indonesia akan meninjau pabrik-pabrik terkemuka serta melakukan diskusi tentang transfer teknologi bagi produsen otomotif dalam negeri.
- Hari 4-5, Seoul: Pertemuan dengan Presiden Korea Selatan serta pejabat Kementerian Perdagangan dan Industri untuk memperluas pasar ekspor produk agrikultur, khususnya kopi, kakao, dan hasil laut. Sesi khusus juga dijadwalkan untuk mengevaluasi potensi kerjasama di bidang energi terbarukan dan smart city.
- Hari 6, Busan: Acara penutup melibatkan forum bisnis yang mempertemukan pengusaha Indonesia dengan investor Korea Selatan, sekaligus konser musik akustik yang menampilkan musisi muda Indonesia yang dibimbing oleh Raja Juli.
Para analis politik menilai kehadiran Raja Juli dalam delegasi sebagai langkah strategis yang mencerminkan kebijakan pemerintah untuk menyeimbangkan dimensi ekonomi dan budaya dalam diplomasi luar negeri. “Kehadiran tokoh budaya terkemuka dapat memperluas jaringan informal yang sering kali membuka pintu bagi investasi dan kerjasama bilateral,” ujar Dr. Andi Prasetyo, pakar hubungan internasional Universitas Indonesia.
Selama kunjungan, Prabowo diperkirakan akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan teknologi Jepang untuk pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai lithium‑ion yang diproduksi di Indonesia. Di Korea Selatan, fokus utama adalah perjanjian joint venture di bidang semikonduktor, yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor komponen elektronik kritis.
Di samping agenda resmi, Raja Juli berencana mengadakan workshop seni tradisional di beberapa universitas Jepang dan Korea Selatan. Workshop ini dirancang untuk memberikan pelatihan langsung kepada mahasiswa asing tentang batik, wayang kulit, dan musik gamelan, sekaligus memperkenalkan konsep ekonomi kreatif Indonesia.
Penguatan hubungan ekonomi dan budaya ini sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo yang menargetkan peningkatan investasi asing langsung (FDI) sebesar 20% pada akhir 2026. Jika kunjungan ini berhasil, diperkirakan nilai investasi yang mengalir dari Jepang dan Korea Selatan ke Indonesia dapat melampaui US$3 miliar, terutama dalam sektor energi bersih, manufaktur berteknologi tinggi, dan pariwisata budaya.
Kesimpulannya, kunjungan kerja Prabowo yang didampingi oleh Raja Juli bukan sekadar misi diplomatik tradisional. Ia menjadi platform terpadu yang menggabungkan agenda ekonomi, teknologi, dan budaya, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam jaringan perdagangan Asia‑Pasifik. Keberhasilan agenda ini akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan luar negeri Indonesia di era pasca‑pandemi, di mana soft power dan hard power harus berjalan beriringan.