Setapak Langkah – 24 Agustus 2026 | Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam sebuah pernyataan resmi mengungkapkan bahwa negara tersebut kini berada dalam situasi yang ia sebut sebagai “perang berskala penuh“. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta tekanan ekonomi yang semakin berat akibat sanksi internasional.
Faktor-faktor yang memicu situasi ini antara lain:
- Pengetatan sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutunya yang menghambat perdagangan dan investasi.
- Konflik berkelanjutan dengan kelompok militan di wilayah perbatasan, khususnya di Suriah dan Yaman.
- Operasi intelijen dan serangan siber yang ditujukan pada infrastruktur kritis Iran.
- Persaingan geopolitik antara kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Israel.
Pernyataan Pezeshkian juga menyinggung upaya diplomatik yang sedang dijalankan pemerintah Iran. Ia menyatakan bahwa Tehran tetap terbuka untuk dialog, namun menolak segala bentuk tekanan yang dianggap merugikan kepentingan nasional. Dalam konteks ini, Iran telah meningkatkan kerja sama dengan sekutu tradisionalnya, termasuk Rusia dan China, untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi internasional.
Reaksi internasional terhadap pernyataan ini beragam. Beberapa negara Barat menganggapnya sebagai upaya Iran untuk memobilisasi dukungan domestik, sementara sekutu di Asia menilai bahwa situasi tersebut menuntut pendekatan yang lebih seimbang dan mengedepankan penyelesaian damai.
Analisis para pakar menilai bahwa istilah “perang berskala penuh” yang digunakan Pezeshkian mencerminkan realitas konflik modern, di mana dimensi ekonomi, siber, dan informasi memiliki dampak yang setara dengan operasi militer konvensional. Mereka memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi stabilitas regional dan pasar energi global.