Setapak Langkah – 11 Juni 2026 | Krisis yang melanda Selat Hormuz akhir-akhir ini mengganggu aliran minyak dunia karena jalur tersebut menjadi salah satu titik penyumbang utama pasokan minyak mentah. Ketegangan geopolitik yang memuncak memaksa pelaku pasar mencari alternatif, dan secara tak terduga perusahaan minyak Amerika Serikat (AS) muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan.
Keuntungan yang dialami perusahaan-perusahaan tersebut disebut sebagai “keunggulan nonkompetitif”. Artinya, mereka tidak hanya meraih margin keuntungan lebih tinggi akibat kenaikan harga spot minyak, tetapi juga mampu memanfaatkan jaringan logistik dan kapasitas produksi yang sudah mapan untuk menyalurkan minyak ke pasar alternatif ketika jalur tradisional terganggu.
Berikut adalah beberapa perusahaan minyak utama AS beserta perkiraan kenaikan laba mereka selama periode krisis:
| Perusahaan | Kenaikan Laba (%) |
|---|---|
| ExxonMobil | 12 |
| Chevron | 10 |
| ConocoPhillips | 9 |
Di sisi lain, China menunjukkan posisi yang paling kuat dalam hal keamanan energi (energy security). Negara tersebut telah meningkatkan cadangan strategis minyak, memperluas kerjasama dengan produsen di Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, serta berinvestasi dalam infrastruktur penyimpanan dan transportasi domestik. Diversifikasi sumber pasokan ini membuat China relatif kurang rentan terhadap gangguan di Selat Hormuz.
Strategi China mencakup akuisisi aset di lapangan minyak luar negeri, pengembangan proyek energi terbarukan, dan peningkatan kapasitas refinasi dalam negeri. Kombinasi faktor-faktor tersebut menempatkan negara tersebut pada posisi yang lebih tahan banting dibandingkan banyak pesaing regional.
Implikasi geopolitik dari dua tren ini cukup signifikan. Sementara perusahaan minyak AS menikmati lonjakan keuntungan jangka pendek, ketergantungan pasar global pada jalur Hormuz tetap menjadi titik lemah yang dapat dimanfaatkan oleh kekuatan politik. Sementara itu, keberhasilan China dalam memperkuat keamanan energi menambah bobotnya dalam negosiasi internasional terkait kebijakan energi dan perdagangan.
Secara keseluruhan, krisis di Selat Hormuz mempertegas dinamika pasar energi global: perusahaan-perusahaan besar dari AS dapat memanen keuntungan cepat, namun negara-negara konsumen utama seperti China berfokus pada ketahanan jangka panjang melalui diversifikasi dan penguatan infrastruktur.