Setapak Langkah – 12 Agustus 2026 | Pasar perak dunia semakin menegang karena proyeksi defisit pasokan yang diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2026. Kenaikan permintaan dari sektor elektronik, energi terbarukan, serta perhiasan menambah tekanan pada sumber daya logam mulia ini.
Berbagai faktor memperparah situasi. Tambang perak tradisional semakin menua, sementara eksplorasi baru mengalami hambatan regulasi dan biaya produksi yang tinggi. Selain itu, geopolitik di beberapa negara produsen utama menimbulkan ketidakpastian pasokan, sehingga cadangan strategis menjadi terbatas.
Berikut adalah perkiraan produksi dan permintaan global perak hingga 2026:
| Tahun | Produksi (ton) | Permintaan (ton) |
|---|---|---|
| 2023 | 845 | 960 |
| 2024 | 842 | 985 |
| 2025 | 838 | 1,010 |
| 2026 | 830 | 1,040 |
Data tersebut menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar antara produksi dan konsumsi, yang mendorong prediksi kenaikan harga perak secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Permintaan utama berasal dari:
- Industri elektronik: komponen semikonduktor, sambungan listrik, dan sensor.
- Energi terbarukan: panel surya berbasis perak dan teknologi baterai.
- Perhiasan dan investasi: bullion, koin, serta perhiasan premium.
Para analis menyarankan investor untuk mempertimbangkan perak sebagai aset diversifikasi portofolio, mengingat potensi apresiasi nilai yang kuat. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa volatilitas harga tetap tinggi dan faktor geopolitik dapat memengaruhi likuiditas pasar.
Di Indonesia, peningkatan minat terhadap investasi logam mulia membuka peluang bagi perusahaan tambang domestik untuk meningkatkan kapasitas produksi serta memperkuat jaringan daur ulang perak. Pemerintah diperkirakan akan meninjau kebijakan perpajakan dan izin tambang guna menarik investasi asing serta teknologi penambangan modern.
Secara keseluruhan, defisit pasokan perak yang diproyeksikan hingga 2026 menciptakan iklim pasar yang kompetitif, dengan peluang investasi yang menjanjikan bagi pelaku industri dan investor yang siap mengelola risiko.