Setapak Langkah – 18 April 2026 | PT Pertamina (Persero) terus memperkuat program pengembangan etanol sebagai bagian dari upaya diversifikasi bahan bakar nasional. Dalam rangka memenuhi target bahan bakar nabati (BBN) E20, perusahaan energi milik negara ini kini menilik kembali potensi tebu sebagai sumber utama produksi bioetanol.
Indonesia telah menetapkan kebijakan penggunaan campuran bahan bakar nabati sebesar 20% pada bensin, yang dikenal dengan sebutan E20. Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, menurunkan emisi karbon, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Beberapa faktor yang membuat tebu menarik bagi Pertamina antara lain:
- Kandungan gula tinggi yang dapat diubah menjadi etanol dengan efisiensi tinggi.
- Tanaman tebu tumbuh di banyak wilayah tropis Indonesia, khususnya di daerah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
- Potensi meningkatkan pendapatan petani melalui skema kontrak pasokan.
Proses produksi bioetanol dari tebu melibatkan beberapa tahapan, yang dapat digambarkan dalam tabel berikut:
| Tahap | Deskripsi |
|---|---|
| Ekstraksi gula | Penggilingan tebu untuk memperoleh jus gula. |
| Fermentasi | Jus gula diolah dengan ragi untuk menghasilkan etanol. |
| Distiilasi | Etanol dipisahkan dan dipurnikan. |
| Pencampuran | Etanol dicampur dengan bensin hingga mencapai rasio 20% (E20). |
Penggunaan tebu sebagai bahan baku juga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada sumber bahan baku lain, seperti jagung atau singkong, yang saat ini masih menjadi bahan utama produksi etanol di beberapa negara.
Namun, ada tantangan yang harus diatasi, antara lain kebutuhan investasi infrastruktur, penyesuaian regulasi, dan memastikan keberlanjutan pasokan tebu tanpa mengorbankan lahan pangan.
Pertamina telah merencanakan tahap uji coba skala menengah pada akhir tahun ini, dengan target produksi komersial etanol berbasis tebu mulai 2025. Keberhasilan proyek ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara.
Dengan melibatkan petani, lembaga riset, dan sektor swasta, inisiatif ini tidak hanya mendukung target energi nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi wilayah agraris Indonesia.