Setapak Langkah – 24 Juni 2026 | Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan pada awal Agustus 2026, Pengasuh Pengurus Pusat (PP) Sembilangan Bangkalan menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi ormas Islam terbesar di Indonesia ini. Menurutnya, dinamika internal NU semakin terasa intens, terutama dalam dua forum strategis: Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas).
Pengasuh menekankan tiga poin utama. Pertama, pergeseran demografis anggota NU yang kini didominasi generasi milenial menuntut pendekatan dakwah yang lebih digital dan inklusif. Kedua, munculnya perbedaan pandangan tentang peran NU dalam politik nasional, khususnya terkait dukungan terhadap partai politik dan kebijakan pemerintah. Ketiga, isu pluralisme dan toleransi yang kerap diperdebatkan dalam sidang Konbes, memunculkan pertanyaan tentang konsistensi nilai-nilai tradisional dengan realitas sosial saat ini.
- Generasi muda: Anggota muda menuntut ruang partisipasi yang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan.
- Politik: Debat internal mengenai dukungan politik NU semakin tajam, dengan sebagian kalangan mengusulkan netralitas, sementara yang lain menekankan peran strategis dalam menjaga kepentingan umat.
- Pluralisme: Diskusi tentang toleransi antaragama dan keberagaman budaya menjadi agenda penting dalam Munas.
Pengasuh menutup pernyataannya dengan harapan bahwa Muktamar ke-35 dapat menjadi momentum untuk merumuskan kebijakan yang menyeimbangkan tradisi dengan tantangan modern, serta memperkuat persatuan internal NU.