Setapak Langkah – 02 Juli 2026 | Pengamat ekonomi menekankan pentingnya memperkuat serapan pasar domestik serta mengoptimalkan rantai pasok pangan untuk menstabilkan harga daging ayam dan telur, dua komoditas pokok yang sangat berpengaruh terhadap inflasi makanan di Indonesia.
Latar Belakang
Dalam beberapa bulan terakhir, harga ayam dan telur mengalami fluktuasi yang signifikan akibat gangguan pasokan, peningkatan biaya produksi, dan permintaan yang tidak merata. Kondisi ini menimbulkan tekanan pada daya beli konsumen, khususnya rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga
- Peningkatan biaya pakan ternak: Harga jagung dan kedelai, bahan utama pakan, naik karena faktor cuaca dan kebijakan ekspor.
- Gangguan logistik: Kendala transportasi dan infrastruktur meningkatkan biaya distribusi.
- Fluktuasi permintaan: Musiman, perayaan keagamaan, dan perubahan pola konsumsi memengaruhi permintaan domestik.
Rekomendasi Pengamat
- Meningkatkan efisiensi rantai pasok dengan memanfaatkan teknologi pelacakan barang dan sistem informasi pasar real‑time.
- Mendorong diversifikasi sumber pakan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
- Memperluas kapasitas penyimpanan dan distribusi di daerah‑daerah terpencil agar pasokan lebih merata.
- Mengoptimalkan kebijakan subsidi pakan dengan target tepat sasaran sehingga tidak menimbulkan distorsi pasar.
- Memfasilitasi kerja sama antara peternak kecil, menengah, dan besar melalui platform digital yang memudahkan akses pasar.
Implikasi bagi Konsumen dan Produsen
Bagi konsumen, penguatan serapan pasar domestik diharapkan dapat menurunkan harga jual akhir ayam dan telur, sehingga daya beli meningkat. Bagi produsen, perbaikan rantai pasok berarti biaya produksi dapat ditekan, meningkatkan margin keuntungan serta mendorong investasi pada sektor peternakan dan perikanan.
Dengan langkah-langkah tersebut, stabilitas harga pangan dapat terjaga, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan mengurangi tekanan inflasi makanan.