Setapak Langkah – 19 Mei 2026 | Sejumlah peneliti ekonomi dari Great Institute, yang dipimpin oleh Ani Asriyah, menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI‑Rate sebesar 25 basis poin dalam rapat kebijakan moneter berikutnya. Usulan tersebut muncul sebagai respons atas tekanan inflasi yang masih berada di atas target dan tantangan dalam mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter Indonesia.
Para peneliti menilai bahwa kenaikan suku bunga dapat menurunkan ekspektasi inflasi di kalangan konsumen dan pelaku usaha, sekaligus mengurangi aliran modal keluar yang dipicu oleh perbedaan suku bunga relatif dengan negara lain. Dengan menyesuaikan BI‑Rate, mereka berharap Bank Indonesia dapat menunjukkan komitmen tegas dalam menjaga stabilitas harga.
Alasan utama yang dikemukakan meliputi:
- Inflasi inti masih berada di atas 3,5 % pada kuartal terakhir, melebihi batas toleransi yang ditetapkan.
- Penguatan rupiah belum cukup untuk menahan arus modal keluar, terutama setelah kebijakan suku bunga di negara maju mulai beranjak naik.
- Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kredibilitas otoritas moneter menurun bila kebijakan tidak responsif terhadap tekanan inflasi.
Jika BI menolak usulan tersebut, para peneliti memperingatkan potensi risiko berupa peningkatan volatilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi yang semakin tinggi. Di sisi lain, kenaikan BI‑Rate sebesar 25 basis poin diproyeksikan akan menambah beban pada sektor rumah tangga dan perusahaan yang memiliki utang berbunga variabel, namun dampaknya diharapkan dapat diimbangi oleh penurunan tekanan inflasi dalam jangka menengah.
Bank Indonesia belum mengonfirmasi keputusan akhir, namun pernyataan peneliti tersebut menambah dinamika diskusi kebijakan moneter menjelang rapat berikutnya. Observasi selanjutnya akan melihat bagaimana BI menyeimbangkan antara kebutuhan menjaga kredibilitas, mengendalikan inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang masih dalam proses pemulihan pasca‑pandemi.