Setapak Langkah – 29 April 2026 | Pemerintah Indonesia dipastikan akan menanggung sebagian beban utang proyek kereta cepat Whoosh, sebuah inisiatif transportasi berkecepatan tinggi yang direncanakan menghubungkan beberapa kota utama. Pernyataan ini disampaikan oleh Dony Oskaria, Direktur Utama Whoosh, dalam sebuah konferensi pers pada Senin (28 April 2024).
Oskaria menegaskan bahwa menyalurkan beban utang hanya kepada Kereta Api Indonesia (KAI) tidaklah memadai. “Jika hanya KAI yang menanggung, risiko keuangan akan terlalu besar dan dapat mengganggu operasional mereka,” ujar Oskaria. Ia menambahkan bahwa dukungan pemerintah diperlukan untuk menjaga kelangsungan finansial dan operasional proyek.
Berikut ini ringkasan alokasi utang yang diperkirakan:
| Komponen | Estimasi Nilai (miliar Rupiah) | Porsi Penanggung |
|---|---|---|
| Pembiayaan Infrastruktur | 12.000 | Pemerintah (45%) & KAI (55%) |
| Pengadaan Rolling Stock | 8.000 | KAI (70%) & Swasta (30%) |
| Biaya Operasional Awal | 3.500 | Pemerintah (60%) & Whoosh (40%) |
Dengan skema pembiayaan ini, pemerintah diproyeksikan akan menanggung sekitar Rp5,4 triliun, sementara KAI dan pihak swasta menanggung sisanya. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi beban keuangan pada KAI dan mempercepat realisasi proyek.
Analisis para pakar ekonomi menilai bahwa intervensi pemerintah dalam proyek Whoosh sejalan dengan kebijakan pengembangan infrastruktur strategis. Namun, ada kekhawatiran mengenai dampak tambahan pada defisit anggaran negara, mengingat tekanan fiskal yang sudah ada.
Secara keseluruhan, langkah pemerintah untuk berbagi beban utang Whoosh mencerminkan komitmen untuk memperkuat jaringan transportasi cepat di Indonesia, sekaligus menjaga stabilitas keuangan entitas operasional utama seperti KAI.