Setapak Langkah – 31 Mei 2026 | PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menegaskan bahwa arus perdagangan Indonesia tetap kuat di kawasan intra-Asia meskipun terjadi ketegangan di Timur Tengah. Menurut data internal perusahaan, volume kargo yang melewati pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia tidak menunjukkan penurunan signifikan sejak awal tahun 2024.
Konflik yang berlangsung di wilayah Timur Tengah memang menimbulkan gejolak pada jalur laut internasional, terutama di Selat Hormuz dan Laut Merah. Namun, para pelaku logistik di Indonesia menyesuaikan rute dengan meningkatkan pemanfaatan jalur alternatif di dalam Asia, seperti lintasan melalui Selat Malaka, Selat Sunda, dan jalur lintas Samudra Hindia bagian selatan.
- Penyesuaian Rute: Pengiriman barang kini lebih banyak diarahkan ke pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok.
- Peningkatan Kapasitas: Pelindo memperluas kapasitas terminal kontainer di Tanjung Priok, Belawan, dan Makassar untuk menampung lonjakan volume intra‑Asia.
- Diversifikasi Produk: Ekspor non‑migas seperti elektronik, tekstil, dan produk agrikultur mengalami pertumbuhan lebih cepat dibandingkan sektor energi.
Berikut ringkasan nilai perdagangan intra‑Asia Indonesia pada kuartal pertama 2024 dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya:
| Negara Tujuan | Nilai Ekspor 2023 (USD Miliar) | Nilai Ekspor 2024 (USD Miliar) | Persentase Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| China | 6,2 | 6,8 | +9,7% |
| Jepang | 2,4 | 2,7 | +12,5% |
| Korea Selatan | 1,9 | 2,1 | +10,5% |
| Singapura | 1,3 | 1,5 | +15,4% |
Data tersebut menunjukkan bahwa perdagangan dengan negara‑negara utama di Asia masih berada di jalur naik, bahkan mengimbangi potensi penurunan pada pasar Timur Tengah. Pelindo menilai bahwa stabilitas rantai pasok regional menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Selain itu, perusahaan juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan otoritas pelabuhan dan regulator untuk mempercepat digitalisasi proses bongkar‑muat, yang diharapkan dapat mengurangi waktu turnaround kapal hingga 15 %. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia di kancah perdagangan intra‑Asia.
Dengan kebijakan yang adaptif serta dukungan infrastruktur yang terus ditingkatkan, Pelindo yakin bahwa perdagangan Indonesia akan tetap berperan signifikan dalam jaringan logistik Asia, meskipun tantangan geopolitik di luar kawasan terus berubah.