Setapak Langkah – 29 Mei 2026 | Legenda Brazil, Neymar Jr., dipastikan tidak akan tampil pada pertandingan pembuka timnas Brasil di Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan melawan lawan pertama grup. Keputusan ini diambil setelah federasi sepak bola Brazil mengumumkan bahwa pemain bintang tersebut akan melewatkan dua laga persahabatan yang direncanakan pada bulan-bulan menjelang turnamen.
Masalah utama yang menimpa Neymar adalah cedera otot paha yang ia derita sejak akhir tahun 2024. Meskipun telah menjalani rehabilitasi intensif, tim medis menilai bahwa pemain berusia 32 tahun itu belum mencapai kondisi fisik optimal untuk bersaing di level tertinggi. Sebagai tindakan pencegahan, pelatih Tite memutuskan untuk menahan Neymar dari dua pertandingan uji coba melawan tim nasional lain, sekaligus memberi kesempatan pemain lain untuk menyesuaikan taktik.
Keputusan ini menimbulkan spekulasi mengenai susunan awal Brasil. Berikut beberapa nama yang diprediksi akan mengisi posisi sayap kanan atau kiri dalam absennya Neymar:
- Rodrygo Goes – penyerang muda yang sudah menunjukkan kecepatan dan kemampuan dribel di liga domestik.
- Vinícius Júnior – pemain sayap yang memiliki rekam jejak performa impresif di kompetisi Eropa.
- Gabriel Martinelli – alternatif ofensif dengan energi tinggi dan kemampuan menembus pertahanan.
Sementara itu, Tite menegaskan bahwa absennya Neymar tidak akan mengubah target utama Brazil, yakni memenangkan gelar keempat mereka di Piala Dunia. “Kami tetap fokus pada strategi tim, bukan pada satu pemain. Setiap pemain memiliki peran penting dalam skema kami,” kata pelatih dalam konferensi pers.
Fans Brasil menyambut kabar ini dengan campuran kekecewaan dan harapan. Di media sosial, banyak pendukung yang mengungkapkan rasa prihatin sekaligus menantikan penampilan pemain muda yang akan mendapat kesempatan besar.
Jika Neymar kembali fit menjelang fase knockout, ia diperkirakan akan bergabung pada pertandingan kedua atau ketiga, memberikan dorongan moral dan teknikal bagi tim. Namun, bila proses pemulihan memerlukan waktu lebih lama, Brazil harus menyiapkan alternatif jangka panjang.