Setapak Langkah – 19 Juli 2026 | Kepala Riset NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menekankan bahwa penguatan proses hilirisasi dan diversifikasi produk ekspor menjadi pilar utama dalam upaya menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.
Hilirisasi mengacu pada peningkatan nilai tambah produk domestik melalui proses pengolahan, manufaktur, atau pengemasan sebelum dipasarkan ke luar negeri. Dengan mengalihkan fokus dari ekspor bahan mentah ke produk setengah jadi atau jadi, Indonesia dapat memperoleh margin keuntungan yang lebih tinggi serta mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas global.
Beberapa sektor yang diprioritaskan antara lain mineral dan logam, agrikultur, kelautan, serta produk digital. Berikut adalah rangkaian strategi yang diusulkan:
- Meningkatkan investasi pada fasilitas pengolahan modern dan ramah lingkungan.
- Mengoptimalkan rantai pasok melalui integrasi antara petani, produsen, dan pelaku industri.
- Mendorong kolaborasi antara lembaga riset, universitas, dan perusahaan swasta untuk inovasi produk.
- Memperluas jaringan pasar dengan menargetkan wilayah Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.
- Memberikan insentif fiskal bagi perusahaan yang melakukan nilai tambah pada produk ekspor.
Berikut perkiraan kontribusi masing‑masing sektor terhadap peningkatan nilai ekspor pada tahun 2025‑2028:
| Sektor | Target Pertumbuhan Ekspor (%) |
|---|---|
| Mineral & Logam | 12 |
| Agrikultur Olahan | 15 |
| Produk Kelautan | 10 |
| Digital & Teknologi | 18 |
Implementasi strategi ini diharapkan dapat menambah pendapatan devisa, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Namun, tantangan seperti kebutuhan modal besar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta regulasi yang mendukung tetap menjadi fokus utama yang harus diatasi.
Dengan komitmen bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga riset, hilirisasi ekspor dapat menjadi motor penggerak ekonomi baru yang berkelanjutan bagi Indonesia.