Setapak Langkah – 25 Agustus 2026 | Musim kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia setiap tahunnya menambah risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi kering, suhu tinggi, serta angin kencang menciptakan lingkungan yang sangat mudah terbakar, terutama pada lahan yang telah mengalami penebangan atau pembukaan.
Berikut beberapa penyebab utama mengapa lahan menjadi lebih rentan terbakar saat musim kemarau:
- Kelembapan rendah: Kadar air tanah menurun drastis, membuat vegetasi dan bahan organik mudah terbakar.
- Suhu tinggi: Peningkatan suhu mempercepat proses penguapan dan mengurangi kadar air pada permukaan tanah.
- Angin kencang: Membawa percikan api ke area yang lebih luas dan mempercepat penyebaran api.
- Tanah gambut kering: Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar; bila kering, ia dapat menyala selama berhari‑hari dan menghasilkan asap tebal.
- Metode pembukaan lahan: Praktik pembakaran lahan (slash‑and‑burn) yang masih umum dilakukan oleh petani atau perusahaan perkebunan meningkatkan risiko kebakaran tak terkendali.
- Kurangnya pengawasan: Penegakan hukum yang lemah serta keterbatasan sarana pemadam mempersulit penanggulangan dini.
- Perubahan iklim: Tren peningkatan suhu global dan pola curah hujan yang tidak menentu memperpanjang durasi musim kemarau.
Data dari Badan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (BP KHL) menunjukkan peningkatan signifikan jumlah titik kebakaran pada bulan-bulan kemarau dibandingkan dengan bulan hujan. Berikut ringkasan data tersebut:
| Bulan | Jumlah Kebakaran |
|---|---|
| Juni | 1.200 |
| Juli | 2.350 |
| Agustus | 3.100 |
| September | 2.800 |
Upaya mitigasi meliputi peningkatan patroli, penyuluhan cara membuka lahan tanpa api, serta restorasi lahan gambut dengan teknik rewetting. Partisipasi masyarakat, terutama petani, sangat penting untuk mengurangi praktik pembakaran terbuka.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang faktor‑faktor yang memicu kebakaran, diharapkan semua pemangku kepentingan dapat berkolaborasi mengurangi insiden karhutla selama musim kemarau.