Setapak Langkah – 27 Juni 2026 | Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, menegaskan komitmen pemerintah untuk memantau dan mendukung perkembangan koperasi di lingkungan pondok pesantren. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi umat melalui model usaha bersama yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Sejak awal tahun 2024, Kementerian Koperasi telah meluncurkan serangkaian program yang menargetkan peningkatan jumlah dan kualitas koperasi ponpes. Program utama meliputi:
- Penyuluhan reguler tentang tata kelola koperasi yang transparan dan akuntabel.
- Pemberian bantuan modal awal bagi koperasi yang belum memiliki aset cukup.
- Fasilitasi pelatihan keterampilan usaha, seperti produksi pangan halal, kerajinan tangan, dan teknologi informasi.
- Pengembangan jaringan pasar melalui kerjasama dengan lembaga keuangan mikro dan platform e‑commerce pemerintah.
Berikut ini gambaran statistik koperasi ponpes yang tercatat hingga akhir 2023:
| Provinsi | Jumlah Koperasi Ponpes | Modal Awal Rata‑rata (Rp) |
|---|---|---|
| Jawa Barat | 124 | 150.000.000 |
| Jawa Timur | 98 | 130.000.000 |
| Sumatera Utara | 67 | 110.000.000 |
| DKI Jakarta | 45 | 200.000.000 |
Ferry Juliantono menekankan bahwa koperasi ponpes bukan sekadar sarana ekonomi, melainkan juga wahana pemberdayaan santri dan masyarakat sekitar. Dengan mengoptimalkan sumber daya lokal, koperasi dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, dan mengurangi ketergantungan pada bantuan sosial.
Beberapa tantangan yang masih dihadapi antara lain keterbatasan pengetahuan manajerial, akses permodalan yang belum merata, serta kurangnya sinergi antar lembaga. Untuk mengatasinya, kementerian berencana memperluas jaringan pelatihan digital dan menggandeng perguruan tinggi Islam sebagai mitra teknis.
Ke depan, target pemerintah adalah menambah minimal 500 koperasi pondok pesantren baru dalam tiga tahun ke depan dan meningkatkan total nilai aset koperasi ponpes hingga Rp 5 triliun. Upaya ini diharapkan dapat menjadikan pondok pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi mandiri yang berkelanjutan.