Setapak Langkah – 18 Agustus 2026 | Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan pada hari Senin bahwa pemerintah pusat telah menyiapkan rencana prioritas penanganan korban gempa bumi yang melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tanggal 5 September 2024. Gempa berkekuatan 6,7 skala Richter tersebut menewaskan lebih dari 200 orang dan mengakibatkan ribuan penduduk mengungsi.
- Pencarian dan Penyelamatan (SAR): Pengiriman 500 personel SAR, termasuk tim Pusat Penanggulangan Bencana (BPBD) dan TNI, ke daerah terdampak untuk melakukan evakuasi dan penanganan korban yang terjebak.
- Layanan Kesehatan Darurat: Penempatan 30 tim medis bergerak, pembukaan klinik lapangan, serta distribusi obat-obatan dan perlengkapan medis kritis.
- Penyediaan Tempat Pengungsian: Penempatan 10.000 tenda darurat, serta pendirian posko pengungsian di tiga kabupaten yang paling terdampak.
- Bantuan Pokok Logistik (BPL): Distribusi makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok lainnya kepada 25.000 keluarga selama 30 hari pertama.
- Pemulihan Infrastruktur: Penilaian cepat terhadap kerusakan jalan, jembatan, dan fasilitas publik untuk memprioritaskan perbaikan kritis.
- Koordinasi Lintas Lembaga: Pembentukan pusat komando darurat yang melibatkan Kementerian Dalam Negeri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, serta organisasi kemanusiaan lokal dan internasional.
Selain itu, Kementerian Dalam Negeri mengalokasikan dana darurat sebesar Rp 1,2 triliun untuk mendukung operasional penanganan bencana selama tiga bulan pertama. Dana tersebut akan disalurkan melalui mekanisme cepat kepada daerah dan lembaga penanggulangan bencana.
“Prioritas utama kami adalah menyelamatkan nyawa dan memberikan bantuan dasar secepat mungkin kepada para korban,” ujar Tito Karnavian dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa pemantauan situasi akan terus dilakukan dan penyesuaian strategi akan dilakukan secara dinamis sesuai dengan perkembangan di lapangan.
Dengan langkah-langkah terkoordinasi ini, diharapkan proses pemulihan di NTT dapat berjalan lebih cepat, mengurangi beban penderitaan korban, serta memulihkan kembali kehidupan masyarakat yang terdampak.