Setapak Langkah – 14 Juni 2026 | Teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi sorotan tajam pada Piala Dunia 2026 setelah keputusan kontroversial dalam laga Swiss versus Qatar. Mantan wasit FIFA, Keith Hackett, mengungkapkan sejumlah kegagalan sistem yang dianggapnya mengancam integritas kompetisi.
Hackett menilai bahwa VAR gagal menyimpulkan posisi offside secara akurat, sehingga memberi keuntungan tak beralasan bagi tim tertentu. Ia mencontohkan insiden penalti yang diberikan kepada Swiss, di mana proses pemutaran ulang video tidak menunjukkan pelanggaran jelas, namun keputusan tersebut tetap dijatuhkan.
Poin utama yang disorot antara lain:
- Kesalahan penentuan offside: Sistem sering menandai pemain berada di posisi offside meski rekaman menunjukkan sebaliknya.
- Waktu peninjauan yang tidak konsisten: Durasi review bervariasi, menyebabkan kebingungan di antara pemain dan pelatih.
- Kurangnya transparansi: Tidak ada penjelasan resmi tentang alasan keputusan akhir setelah review.
Untuk memberi gambaran, tabel berikut merangkum tiga insiden utama yang disebut Hackett:
| Babak | Tim | Keputusan VAR | Isu |
|---|---|---|---|
| Group Stage | Swiss vs Qatar | Penalti untuk Swiss | Offside tidak terdeteksi, tidak ada pelanggaran jelas |
| Group Stage | Brasil vs Argentina | Salah satu gol dibatalkan | Review offside berlebihan, menimbulkan keraguan |
| Knockout | Spanyol vs Portugal | Gol dipertahankan | Durasi review 12 detik, dianggap terlalu singkat |
Hackett menekankan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan otoritas mutlak. Ia menyerukan FIFA untuk melakukan audit menyeluruh, memperbaiki algoritma deteksi offside, serta menyusun standar waktu review yang uniform.
Jika perbaikan tidak segera dilakukan, para penggemar dan pemain berisiko kehilangan kepercayaan pada keadilan pertandingan, yang pada gilirannya dapat menurunkan nilai komersial turnamen.