Setapak Langkah – 17 Juni 2026 | Menteri Koperasi, Ferry Joko Juliantono, menanggapi keresahan sejumlah mahasiswa yang menuntut evaluasi dan peningkatan efisiensi program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Mahasiswa menilai program tersebut belum memberikan manfaat yang signifikan bagi mereka dan mengkritik cara pelaksanaannya.
Dalam konferensi pers, Menkop menegaskan bahwa Kopdes dirancang untuk memperkuat perekonomian desa melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta menciptakan lapangan kerja bagi generasi muda. Menurutnya, kritik mahasiswa lebih bersifat persepsi daripada fakta yang didukung data.
- Keluhan Mahasiswa: kurangnya transparansi alokasi dana, prosedur yang rumit, dan kurangnya pelibatan aktif mahasiswa dalam perencanaan.
- Penjelasan Menkop: alokasi dana sudah disesuaikan dengan kebutuhan desa, prosedur mengikuti regulasi nasional, dan pelibatan mahasiswa sedang dalam tahap pilot yang akan diperluas.
- Tindakan Lanjutan: Pemerintah berkomitmen melakukan audit independen, memperbaiki mekanisme monitoring, serta membuka forum dialog reguler dengan perwakilan mahasiswa.
Menkop juga menekankan bahwa program Kopdes tidak dimaksudkan sebagai “masak mahasiswa” melainkan sebagai wadah kolaborasi antara pemerintah, desa, dan generasi muda. Ia mengajak mahasiswa untuk melihat peluang usaha yang dapat dikembangkan melalui koperasi desa, seperti produksi pertanian organik, kerajinan tangan, dan layanan digital.
Jika mahasiswa memiliki keberatan spesifik, Menkop mengundang mereka untuk menyampaikan melalui kanal resmi Kementerian Koperasi. Dengan demikian, perbaikan kebijakan dapat dilakukan secara partisipatif dan berbasis data.