Setapak Langkah – 15 April 2026 | Penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas di kalangan pelajar, mulai dari penulisan tugas hingga penyelesaian soal matematika. Meskipun teknologi ini menawarkan kemudahan, para akademisi mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.
Profesor Anita Sari, pakar pendidikan di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dapat menimbulkan apa yang disebutnya “cognitive debt“. Istilah ini menggambarkan akumulasi kerugian mental ketika otak siswa tidak lagi terbiasa melakukan proses berpikir mandiri, mengingatkan bahwa setiap kali AI menyelesaikan masalah untuk mereka, kesempatan untuk melatih logika dan analisis berkurang.
Data awal dari sebuah survei yang melibatkan 1.200 siswa SMA di lima kota besar menunjukkan bahwa 68% responden mengaku sering menggunakan AI untuk menjawab soal latihan, sementara hanya 22% yang merasa yakin dapat menyelesaikan soal tanpa bantuan teknologi. Penurunan kemampuan berpikir kritis ini, kata Profesor Sari, dapat berujung pada kesulitan dalam memecahkan masalah kompleks di masa depan.
Para pakar menyarankan langkah-langkah berikut untuk mengurangi risiko “cognitive debt”:
- Mengintegrasikan penggunaan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.
- Mendorong tugas yang menuntut analisis mendalam dan kreativitas, sehingga AI hanya berperan sebagai referensi.
- Mengadakan pelatihan literasi digital yang menekankan pentingnya verifikasi dan interpretasi hasil AI.
- Membatasi durasi penggunaan AI dalam sesi belajar, misalnya 15 menit per topik.
Selain itu, institusi pendidikan diharapkan dapat menyesuaikan kurikulum dengan menambahkan modul yang mengajarkan strategi pemecahan masalah tanpa teknologi, serta menilai kemampuan berpikir kritis melalui ujian berbasis proyek.
Jika tidak ditangani, akumulasi “cognitive debt” dapat memperlemah daya saing generasi muda di era digital, di mana kemampuan beradaptasi dan inovasi tetap menjadi nilai utama. Oleh karena itu, kolaborasi antara pendidik, orang tua, dan pengembang AI menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem belajar yang seimbang antara manfaat teknologi dan pengembangan otak manusia.