Setapak Langkah – 19 Juni 2026 | Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang diumumkan pemerintah pada awal bulan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengemudi ojek online (ojol). Namun Kepala Badan Koordinasi Penanggulangan Kemacetan (Bakom), Qodari, menyatakan bahwa dampaknya diprediksi tidak akan signifikan.
| Jenis Bahan Bakar | Persentase Penggunaan oleh Ojol |
|---|---|
| Pertamax | 5% |
| Pertalite | 95% |
Qodari menambahkan bahwa sebagian besar pengemudi ojol menyesuaikan strategi pengeluaran mereka dengan memperhatikan faktor-faktor lain seperti tarif layanan, jarak tempuh harian, dan biaya perawatan kendaraan. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax sebesar XX% (isi sesuai data resmi) tidak akan menjadi beban utama bila dibandingkan dengan fluktuasi tarif transportasi yang dipengaruhi oleh permintaan pasar.
Berikut beberapa poin penting yang diungkapkan Qodari:
- Penggunaan Pertamax oleh ojol masih sangat rendah, hanya 5 persen.
- Kenaikan harga Pertamax diperkirakan tidak akan menimbulkan beban signifikan pada biaya operasional ojol secara keseluruhan.
- Pengemudi cenderung beralih ke Pertalite atau mencari alternatif penghematan lain bila harga BBM naik.
- Pemerintah diharapkan terus memantau dampak harga BBM pada sektor transportasi berbasis digital.
Analisis ini penting karena sektor transportasi online menyumbang kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun mobilitas masyarakat. Jika kebijakan harga BBM tidak menyebabkan lonjakan biaya bagi mayoritas pengemudi, maka stabilitas layanan transportasi digital dapat tetap terjaga.
Ke depan, Qodari menekankan pentingnya kolaborasi antara regulator, penyedia platform ojol, dan para pengemudi untuk mencari solusi bersama dalam mengelola biaya operasional, termasuk penggunaan bahan bakar yang lebih efisien atau pemanfaatan teknologi kendaraan listrik.