Setapak Langkah – 28 Mei 2026 | Iduladha, atau Hari Raya Haji, kembali menjadi momentum penting bagi umat Muslim di seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah kurban. Tradisi menyembelih sapi atau kambing serta membagikan dagingnya kepada yang membutuhkan tidak hanya menegaskan nilai solidaritas, tetapi juga menimbulkan perbincangan publik ketika tokoh-tokoh terkenal terlibat.
Seorang warga negara Indonesia bernama Jennifer Coppen memutuskan untuk melaksanakan kurban atas nama keluarganya. Menurut keterangan yang beredar, Coppen mengirimkan dana untuk penyembelihan satu ekor sapi dengan tujuan agar dagingnya dapat dibagikan kepada warga kurang mampu di wilayahnya. Keputusan ini dianggap sebagai wujud kepedulian sosial yang menginspirasi banyak orang untuk meneladani semangat berbagi.
Di sisi lain, publik juga mencermati unggahan media sosial yang menampilkan seorang influencer bernama Justin Hubner. Hubner memposting video singkat yang menampilkan proses pemotongan hewan kurban dengan gaya yang terkesan dramatis. Video tersebut cepat menjadi perbincangan karena gaya penyajian yang dianggap tidak sensitif terhadap nilai religius dan etika penyembelihan.
Reaksi masyarakat terbagi menjadi dua kelompok utama:
- Pendukung: Menilai tindakan Coppen sebagai contoh nyata kepedulian keluarga, serta mengapresiasi upaya Hubner dalam menyebarkan informasi tentang prosedur kurban yang benar.
- Kritikus: Mengkritik cara penyajian Hubner yang dianggap mengabaikan kesucian momen Iduladha, serta menilai postingan tersebut berpotensi menyinggung perasaan umat.
Berikut rangkaian umum langkah pelaksanaan kurban yang biasanya diikuti oleh keluarga atau lembaga:
- Pemilihan hewan yang layak, biasanya sapi atau kambing sehat.
- Pembayaran biaya penyembelihan kepada penyembelih yang berlisensi.
- Penyembelihan dilakukan dengan cara yang sesuai syariat, yaitu mengucapkan nama Allah sebelum memotong.
- Pembagian daging kepada kerabat, tetangga, dan dhuafa dengan proporsi yang adil.
- Dokumentasi proses untuk transparansi dan akuntabilitas.
Kejadian ini menegaskan kembali betapa pentingnya sensitivitas dalam menampilkan ritual keagamaan di ranah publik. Sementara aksi filantropi seperti yang dilakukan Coppen mendapat pujian, penyajian yang kurang memperhatikan konteks religius dapat memicu kontroversi, seperti yang terlihat pada unggahan Hubner.
Secara keseluruhan, Iduladha kali ini tidak hanya menjadi ajang ibadah, melainkan juga cermin dinamika sosial media dimana aksi baik maupun kontroversi dapat menyebar dengan cepat, memengaruhi persepsi publik tentang nilai-nilai keagamaan.