Setapak Langkah – 29 Juni 2026 | Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh tim ilmuwan Indonesia mengungkapkan faktor baru yang berkontribusi pada penumpukan lemak di area perut seiring bertambahnya usia. Sebelumnya, peningkatan lemak perut sering dikaitkan dengan penurunan aktivitas fisik dan perubahan pola makan, namun temuan ini menambahkan dimensi biologis yang belum banyak dibahas.
Tim peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Andi Saputra dari Institut Bioteknologi Nasional, melakukan analisis longitudinal pada lebih dari 1.200 subjek berusia 30 hingga 70 tahun selama lima tahun. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan medis rutin, pengukuran komposisi tubuh, serta analisis sampel darah dan mikrobioma usus.
Hasil utama menunjukkan bahwa penurunan produksi hormon melatonin dan peningkatan kadar senyawa inflamasi kronis (IL-6, TNF-α) berperan signifikan dalam akumulasi lemak visceral. Selain itu, perubahan komposisi bakteri usus yang mempengaruhi metabolisme lemak juga teridentifikasi sebagai kontributor utama.
- Penurunan melatonin: Hormone yang biasanya berperan dalam regulasi siklus tidur ternyata memengaruhi proses pembakaran lemak. Kekurangan melatonin memperlambat metabolisme lipid.
- Inflamasi kronis: Tingginya tingkat sitokin inflamasi meningkatkan resistensi insulin, yang selanjutnya memicu penyimpanan lemak di perut.
- Disbiosis usus: Perubahan proporsi bakteri baik dan patogen mengganggu jalur metabolik yang mengontrol penyerapan lemak.
Peneliti juga menyoroti peran genetik, khususnya varian gen PPARγ yang memodulasi diferensiasi sel lemak. Subjek dengan varian tertentu menunjukkan akumulasi lemak perut yang lebih cepat meskipun memiliki pola makan serupa dengan kelompok kontrol.
Implikasi temuan ini cukup luas. Selain membuka peluang bagi pengembangan suplemen melatonin atau probiotik khusus, hasil penelitian menekankan pentingnya deteksi dini tingkat inflamasi melalui tes darah rutin. Intervensi yang menargetkan inflamasi dan keseimbangan mikrobioma dapat menjadi strategi preventif yang efektif bagi populasi lansia.
Para ahli menyarankan agar masyarakat meningkatkan kualitas tidur, mengonsumsi makanan kaya antioksidan, serta memperhatikan kesehatan usus melalui konsumsi serat dan probiotik alami. Kombinasi langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperlambat atau bahkan membalikkan proses penumpukan lemak perut yang terkait dengan penuaan.