Setapak Langkah – 04 Juli 2026 | Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menegaskan keyakinannya bahwa persediaan uranium yang telah diperkaya masih berada di dalam fasilitas nuklir Iran. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, dalam sebuah wawancara dengan Sputnik, menanggapi spekulasi internasional tentang kemungkinan pemindahan bahan nuklir tersebut.
Grossi menjelaskan bahwa hasil inspeksi terbaru, termasuk pemantauan satelit dan verifikasi di lapangan, menunjukkan tidak ada indikasi bahwa uranium berlabel tinggi atau sedang dipindahkan ke lokasi lain di luar kompleks nuklir yang telah diidentifikasi. “Berdasarkan data yang kami kumpulkan, bahan uranium yang diperkaya tetap berada di fasilitas yang berada di bawah pengawasan IAEA,” ujarnya.
Berikut beberapa poin penting yang disorot dalam pernyataan tersebut:
- IAEA terus melakukan inspeksi rutin di fasilitas nuklir Iran sejak kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) dicabut pada 2018.
- Pemantauan meliputi penggunaan kamera termal, sensor radiasi, dan verifikasi sampel bahan bakar.
- Data satelit menunjukkan tidak ada pembangunan infrastruktur baru yang dapat menampung uranium berlabel tinggi di luar area yang telah teridentifikasi.
Penegasan ini memiliki implikasi penting bagi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Jika persediaan uranium tetap berada di lokasi yang terkontrol, risiko proliferasi nuklir dapat diminimalisir, sekaligus memberikan ruang bagi negosiasi kembali antara Iran dan komunitas internasional.
Namun, para analis menambahkan bahwa situasi tetap rentan terhadap perubahan. Mereka menyoroti bahwa keputusan politik di dalam negeri Iran, serta tekanan eksternal dari negara-negara lain, dapat memengaruhi kebijakan nuklir negara tersebut di masa depan.
IAEA menegaskan komitmennya untuk terus memantau semua aktivitas terkait bahan nuklir di Iran, dengan tujuan memastikan transparansi dan kepatuhan terhadap standar internasional. Grossi menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya kerja sama global dalam mengelola risiko nuklir demi keamanan bersama.