Setapak Langkah – 28 April 2026 | Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), menegaskan bahwa ketahanan nasional Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran aktif masyarakat akar rumput. Menurutnya, kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuan seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pembangunan, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada acara forum kebangsaan, HNW menyoroti beberapa poin kunci:
- Pemberdayaan lokal: Program-program yang menitikberatkan pada pengembangan kapasitas desa, kelurahan, dan komunitas setempat dapat meningkatkan daya serap kebijakan pemerintah.
- Kemandirian ekonomi: Dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pertanian berkelanjutan akan memperkuat basis ekonomi rakyat.
- Kesiapsiagaan sosial: Partisipasi masyarakat dalam pelatihan mitigasi bencana, kesehatan masyarakat, dan pendidikan karakter menjadi pilar ketahanan sosial.
HNW menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan warga harus dibangun secara berkesinambungan. Ia mencontohkan beberapa inisiatif yang telah menunjukkan hasil positif, antara lain program “Desa Mandiri” yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam lokal, serta jaringan koperasi digital yang memperluas akses pasar bagi petani dan pengrajin.
Berikut rangkuman langkah strategis yang diusulkan HNW untuk memperkuat peran masyarakat akar rumput dalam ketahanan nasional:
- Mengalokasikan anggaran khusus bagi program pemberdayaan desa dan UMKM.
- Mengintegrasikan pelatihan keterampilan teknis dan soft skill dalam kurikulum pendidikan formal dan non‑formal.
- Mengembangkan platform digital yang memfasilitasi pertukaran informasi, pemasaran, dan pendanaan bagi usaha mikro.
- Menetapkan mekanisme evaluasi berbasis data yang melibatkan partisipasi warga dalam penilaian efektivitas kebijakan.
- Memperkuat jaringan kemanusiaan untuk respons cepat dalam situasi darurat, termasuk bencana alam dan krisis kesehatan.
Pernyataan HNW ini mendapat respon positif dari para akademisi dan praktisi kebijakan, yang menilai bahwa pendekatan berbasis masyarakat dapat menjadi katalisator bagi ketahanan jangka panjang. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi membutuhkan koordinasi lintas sektor yang solid, transparansi dalam penggunaan anggaran, serta pengawasan yang ketat.
Secara keseluruhan, penekanan HNW pada kontribusi masyarakat akar rumput mencerminkan pergeseran paradigma kebijakan Indonesia dari model top‑down ke model kolaboratif. Jika diterapkan secara konsisten, strategi ini berpotensi meningkatkan ketahanan nasional tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga dari dimensi sosial, budaya, dan lingkungan.