Setapak Langkah – 20 April 2026 | Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap latar belakang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi bagian penting kebijakan sosial pemerintah. Menurutnya, inisiatif ini bukanlah hasil kebijakan terbaru, melainkan gagasan yang telah dirancang sejak tahun 2006 oleh Prabowo Subianto, jauh sebelum berdirinya Partai Gerindra pada 2008.
Hashim menjelaskan bahwa MBG awalnya muncul sebagai respons terhadap tingginya angka stunting dan kekurangan gizi pada anak-anak di daerah‑daerah terpencil. Pada masa itu, Prabowo tengah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan memanfaatkan posisi strategisnya untuk menggalang dukungan lintas sektor, termasuk kementerian pertanian, kesehatan, serta lembaga‑lembaga non‑pemerintah.
Berikut rangkaian perkembangan MBG sejak konsepsi hingga implementasi nasional:
- 2006: Prabowo merumuskan konsep MBG dalam sebuah dokumen kebijakan internal, menekankan pentingnya penyediaan makanan bergizi bagi anak usia dini.
- 2008: Gerindra berdiri, namun inisiatif MBG tetap berada di luar agenda partai dan terus dipertahankan sebagai proyek non‑partisan.
- 2014‑2019: Beberapa pilot project MBG dilaksanakan di provinsi Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan, dengan dukungan dana swasta dan lembaga donor.
- 2020: Pemerintah menyiapkan regulasi formal untuk mengintegrasikan MBG ke dalam program Keluarga Harapan (KPH) dan Program Indonesia Pintar (PIP).
- 2022‑sekarang: MBG resmi diangkat menjadi program nasional, dikoordinasikan oleh Kementerian Sosial bersama Kementerian Kesehatan, dengan target mencapai 10 juta anak per tahun.
Hashim menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak lepas dari kolaborasi lintas sektoral serta komitmen jangka panjang yang ditanamkan sejak awal. Ia menambahkan bahwa program ini juga menjadi bukti konsistensi visi Prabowo dalam memprioritaskan kesejahteraan generasi muda, terlepas dari dinamika politik partai.
Dengan latar belakang tersebut, MBG diharapkan terus berkembang, tidak hanya sebagai program bantuan pangan, tetapi juga sebagai platform edukasi gizi yang melibatkan sekolah, orang tua, dan komunitas lokal.