Setapak Langkah – 29 Mei 2026 | Stabilitas nilai tukar rupiah tidak dapat dijadikan beban tunggal bagi Bank Indonesia (BI). Seorang ekonom menegaskan bahwa perbaikan kebijakan fiskal dan moneter secara bersamaan menjadi kunci utama agar rupiah dapat kembali menguat.
Selama beberapa bulan terakhir, rupiah mengalami tekanan akibat defisit neraca berjalan yang tinggi, ketidakpastian kebijakan fiskal, serta volatilitas pasar global. Meskipun BI telah melakukan penyesuaian suku bunga dan intervensi pasar, dampaknya terbatas karena faktor-faktor struktural yang berasal dari sisi fiskal.
Berikut beberapa poin utama yang disorot oleh ekonom tersebut:
- Keseimbangan kebijakan: Kebijakan moneter yang ketat harus diimbangi dengan kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan, seperti pengendalian defisit anggaran dan peningkatan efisiensi belanja publik.
- Pengendalian inflasi: Inflasi yang masih berada di atas target dapat memaksa BI menaikkan suku bunga secara berulang, yang pada gilirannya menekan likuiditas dan pertumbuhan ekonomi.
- Stabilitas eksternal: Memperbaiki neraca berjalan melalui peningkatan ekspor dan penurunan impor akan mengurangi tekanan pada rupiah.
Jika pemerintah berhasil menurunkan defisit fiskal melalui reformasi pajak, pemangkasan subsidi yang tidak produktif, serta peningkatan kualitas investasi publik, maka tekanan pada kurs dapat berkurang secara signifikan. Kombinasi tersebut memungkinkan BI untuk mengadopsi kebijakan moneter yang lebih akomodatif tanpa mengorbankan kestabilan harga.
Selain itu, transparansi dalam komunikasi kebijakan sangat penting. Pasar cenderung merespons sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan fiskal dan moneter. Dengan mengirimkan pesan yang konsisten, ekspektasi pelaku ekonomi dapat dipandu menuju kestabilan nilai tukar.
Secara keseluruhan, pemulihan rupiah memerlukan sinergi antara kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan kebijakan moneter yang tepat sasaran. Hanya dengan policy mix yang seimbang, rupiah berpotensi kembali menguat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.