Setapak Langkah – 19 Juni 2026 | Bank Indonesia (BI) menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dapat dipertahankan meski suku bunga acuan (BI-Rate) mengalami kenaikan pada kuartal ini. Kenaikan tersebut dilatarbelakangi oleh upaya menahan laju inflasi yang berada di atas target.
- Konsumsi rumah tangga dipicu oleh pendapatan yang relatif stabil dan program bantuan sosial.
- Belanja pemerintah fokus pada infrastruktur dan layanan publik.
- Investasi meningkat berkat kebijakan insentif pajak dan kemudahan perizinan.
Berikut ini ringkasan indikator ekonomi utama yang menjadi pertimbangan BI dalam menetapkan kebijakan moneter:
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Pertumbuhan GDP (YoY) | 5,2 % | Proyeksi 2024 |
| Inflasi (YoY) | 4,8 % | Masih di atas target 3 % |
| BI Rate | 6,00 % | Kenaikan 25 bps |
| Konsumsi Rumah Tangga | 60 % PDB | Stabil |
| Investasi | 5,5 % | Naik dibanding tahun sebelumnya |
BI menegaskan bahwa meski kebijakan moneter menjadi lebih ketat, stimulus fiskal dan daya beli masyarakat yang kuat akan menjadi penopang utama perekonomian. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi diharapkan dapat menurunkan tekanan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan secara signifikan.
Pengamat ekonomi menilai bahwa situasi ini menuntut koordinasi yang baik antara kebijakan moneter dan fiskal. Jika konsumsi tetap terjaga dan investasi terus meningkat, ekonomi Indonesia dapat melewati tantangan inflasi dan tetap berada pada lintasan pertumbuhan yang diharapkan.