Setapak Langkah – 21 Mei 2026 | Desa Wisata Penglipuran di Bangli, Bali, meluncurkan program asuransi keselamatan gratis bagi semua wisatawan yang berkunjung. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan rasa aman pengunjung sekaligus memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata yang peduli terhadap kesejahteraan turis.
Program asuransi ini mencakup perlindungan terhadap kecelakaan ringan, kehilangan barang pribadi, serta biaya medis darurat hingga batas tertentu. Semua turis, baik domestik maupun mancanegara, dapat menikmati manfaat ini tanpa harus membayar premi tambahan.
Berikut adalah poin‑poin penting dari program tersebut:
- Berbayar Gratis: Asuransi diberikan secara otomatis saat wisatawan mendaftar di kantor desa atau melalui portal resmi desa.
- Cakupan: Perlindungan meliputi kecelakaan fisik, evakuasi medis, dan kehilangan barang berharga seperti dompet atau paspor.
- Prosedur Klaim: Wisatawan yang mengalami insiden dapat mengisi formulir klaim di kantor desa, melampirkan bukti medis atau laporan polisi, dan dana akan dicairkan dalam waktu 3–5 hari kerja.
- Durasi Perlindungan: Asuransi berlaku selama masa tinggal di Penglipuran, dengan batas maksimal 30 hari per kunjungan.
- Pendanaan: Biaya asuransi ditanggung oleh dana desa yang bersumber dari alokasi APBD dan sumbangan sponsor lokal.
Wakil Kepala Desa Penglipuran, I Made Sudarma, menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah melakukan survei kepuasan wisatawan yang mengindikasikan keprihatinan utama terkait keamanan selama berwisata. “Kami ingin setiap pengunjung merasa tenang dan dapat menikmati keindahan budaya serta alam Penglipuran tanpa rasa khawatir,” ujarnya.
Selain meningkatkan rasa aman, program ini diharapkan dapat menarik lebih banyak kunjungan, khususnya dari segmen wisatawan yang menilai keamanan sebagai faktor utama dalam memilih destinasi. Analisis awal menunjukkan peningkatan kunjungan sebesar 12% dalam tiga bulan pertama pelaksanaan.
Penglipuran juga mengoptimalkan sosialisasi melalui papan informasi di pintu masuk, brosur di hotel setempat, serta media sosial resmi desa. Dengan demikian, informasi mengenai asuransi dapat dijangkau oleh semua kalangan wisatawan.
Keberhasilan program ini dapat menjadi contoh bagi desa‑desa wisata lain di Indonesia untuk mengintegrasikan layanan asuransi dalam upaya meningkatkan standar keselamatan dan kenyamanan turis.