Setapak Langkah – 30 Juni 2026 | Kementerian Pertahanan (Kemhan) resmi mengumumkan perubahan kurikulum bagi calon manajer Kopasus Desa Merah Putih. Program latihan militer (Latsarmil) yang selama ini menjadi bagian wajib kini digantikan dengan program baru yang menekankan pembekalan bela negara dan kompetensi manajerial.
Perubahan ini dipicu oleh tragedi yang menimpa lima peserta Latsarmil yang meninggal dunia dalam sebuah insiden pada akhir tahun lalu. Insiden tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai keamanan dan efektivitas pelatihan militer konvensional bagi calon manajer yang sebenarnya ditugaskan mengelola operasi pertahanan wilayah desa.
Berikut rincian utama dari program baru:
- Fokus Bela Negara: Materi meliputi pemahaman konstitusi, peran warga dalam pertahanan, serta teknik dasar pertahanan siber dan non‑militer.
- Kompetensi Manajerial: Pelatihan mencakup manajemen sumber daya, perencanaan strategis, kepemimpinan tim, serta pengelolaan krisis.
- Durasi dan Metode: Program dirancang selama 12 minggu, menggabungkan kuliah tatap muka, simulasi digital, dan studi kasus lapangan.
- Evaluasi: Peserta akan dievaluasi melalui tes tertulis, penilaian praktik, dan proyek akhir yang menilai kemampuan mengintegrasikan konsep bela negara dengan manajemen operasional.
Pejabat senior Kemhan menegaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar respons reaktif, melainkan bagian dari upaya jangka panjang untuk menyesuaikan profil kompetensi calon manajer dengan tantangan keamanan modern. “Kita harus menyiapkan pemimpin yang tidak hanya terlatih secara fisik, tetapi juga menguasai strategi manajerial dan nilai-nilai kebangsaan,” ujar Kepala Biro Pendidikan dan Pelatihan Kemhan.
Reaksi dari kalangan militer dan masyarakat beragam. Beberapa pihak menyambut baik penekanan pada bela negara, sementara yang lain mengkhawatirkan berkurangnya pelatihan fisik yang dianggap esensial bagi kesiapan tempur. Namun, mayoritas setuju bahwa integrasi manajerial dapat meningkatkan efektivitas operasional di tingkat desa.
Implementasi program baru dijadwalkan mulai kuartal pertama 2025, dengan seleksi peserta melalui proses seleksi ketat yang mencakup tes kebugaran, psikotes, dan wawancara kompetensi. Diharapkan, lulusan program ini akan menjadi “manajer pertahanan desa” yang mampu mengkoordinasikan sumber daya lokal, mengedukasi warga tentang pentingnya bela negara, serta mengelola situasi darurat dengan profesional.
Dengan mengalihkan fokus dari latihan militer tradisional ke pendekatan yang lebih holistik, Kemhan berharap dapat mencegah tragedi serupa di masa depan sekaligus memperkuat jaringan pertahanan nasional dari akar rumput.