Setapak Langkah – 29 Mei 2026 | Data resmi pemerintah Inggris mengonfirmasi bahwa pada April 2026 tercatat sekitar 100.000 posisi kerja terhapus secara sekaligus, menandai lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terbesar dalam lima tahun terakhir.
Fenomena ini muncul bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang menambah ketidakpastian ekonomi global. Para analis menilai bahwa konflik tersebut menekan rantai pasokan energi, memperlambat investasi, serta menurunkan permintaan barang dan jasa di pasar internasional, termasuk di Inggris.
Berikut adalah ringkasan data PHK yang dilaporkan selama lima tahun terakhir:
| Tahun | Bulan | Jumlah PHK (orang) |
|---|---|---|
| 2022 | Mei | 45.000 |
| 2023 | November | 57.000 |
| 2024 | Juli | 62.000 |
| 2025 | Februari | 78.000 |
| 2026 | April | 100.000 |
Berbagai sektor merasakan dampak paling signifikan, antara lain:
- Industri manufaktur, khususnya sektor otomotif dan logam.
- Jasa keuangan, dengan penurunan aktivitas pinjaman dan investasi.
- Perdagangan ritel, akibat penurunan daya beli konsumen.
- Energi, terutama perusahaan yang bergantung pada pasokan gas alam.
Pemerintah Inggris menanggapi situasi dengan mempercepat program pelatihan ulang (reskilling) dan memperluas tunjangan pengangguran sementara. Selain itu, kementerian keuangan mengumumkan paket stimulus fiskal senilai £10 miliar yang ditujukan untuk mendukung usaha kecil dan menengah yang terancam kebangkrutan.
Para ekonom memperingatkan bahwa jika konflik AS‑Iran berlanjut, tekanan pada pasar tenaga kerja Inggris dapat berlanjut atau bahkan meningkat. Namun, mereka juga menilai bahwa kebijakan stimulus dan investasi dalam teknologi hijau berpotensi menstabilkan kembali tingkat pengangguran dalam jangka menengah.