Setapak Langkah – 28 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Rabu (27/5) mengeluarkan peringatan tegas kepada Kesultanan Oman untuk tidak berusaha menguasai Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang disampaikan di Washington, Trump menegaskan bahwa jika Oman mencoba mengambil alih kontrol selat tersebut, negara itu berisiko “diledakkan” oleh militer Amerika Serikat.
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Lebih dari setengah produksi minyak dunia melintasi selat ini setiap harinya, menjadikannya titik strategis yang sangat sensitif dalam geopolitik energi global.
Ketegangan di kawasan ini telah meningkat sejak beberapa minggu terakhir. Iran, yang selama ini menegaskan haknya atas selat tersebut, menuduh Amerika Serikat dan sekutunya berusaha memprovokasi situasi. Sementara itu, konflik yang berlangsung di Yaman dan persaingan antara saudara kerajaan Teluk menambah kompleksitas dinamika regional.
- Ancaman AS: Trump menyatakan Amerika Serikat siap menggunakan kekuatan militer untuk melindungi kebebasan navigasi di Hormuz.
- Posisi Oman: Pemerintah Muscat belum memberikan respons resmi, namun diperkirakan akan menimbang antara menjaga hubungan baik dengan AS dan menghindari konfrontasi dengan tetangga regional.
- Dampak ekonomi: Gangguan aliran minyak melalui Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi dunia dan menimbulkan ketidakstabilan pasar.
- Reaksi internasional: Beberapa negara Eropa dan Asia menyoroti pentingnya penyelesaian damai melalui dialog, menolak penggunaan kekerasan.
Keberadaan kapal perang Amerika Serikat di perairan sekitar selat terus meningkat sebagai bentuk pencegahan. Namun, analis memperingatkan bahwa eskalasi militer di wilayah ini dapat memicu konflik lebih luas, mengingat keterlibatan beberapa kekuatan regional yang memiliki kepentingan strategis.
Para pakar geopolitik menekankan bahwa dialog diplomatik tetap menjadi jalan terbaik untuk meredakan ketegangan. Mereka mengingatkan bahwa setiap tindakan unilateral, baik berupa ancaman militer maupun upaya penguasaan wilayah, dapat memperburuk situasi dan mengancam stabilitas energi global.