Setapak Langkah – 17 Juni 2026 | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengapresiasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memungkinkan Selat Hormuz kembali beroperasi normal setelah seminggu ketegangan.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, melaluinya diperkirakan 20% produksi minyak dunia mengalir setiap hari. Pembukaan kembali jalur ini diharapkan menurunkan tekanan pada harga minyak mentah internasional.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak dapat mengurangi beban impor energi, menurunkan defisit neraca perdagangan, dan menstabilkan inflasi. Menkeu menilai langkah ini sebagai ‘angin segar’ bagi sektor energi dan industri berat.
- Penurunan harga impor minyak
- Stabilisasi nilai tukar rupiah
- Pengurangan tekanan inflasi
- Peningkatan daya saing industri manufaktur
Untuk mengekspresikan kebahagiaan, Menkeu Purbaya menirukan gerakan tarian yang pernah dipopulerkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam sebuah video singkat yang kemudian dibagikan di media sosial resmi Kementerian Keuangan. Tindakan tersebut dianggap sebagai cara ringan untuk mengirimkan pesan positif kepada publik dan pelaku pasar.
Analisis dampak jangka pendek menunjukkan penurunan harga Brent sekitar 3-5 dolar per barel, pergerakan nilai tukar rupiah yang lebih stabil, dan kemungkinan penurunan tarif bahan bakar di SPBU. Analisis jangka panjang menekankan bahwa stabilitas geopolitik di kawasan Teluk masih bergantung pada implementasi kesepakatan dan kepatuhan kedua belah pihak.
Pemerintah Indonesia diperkirakan akan memanfaatkan momentum ini dengan mempercepat program diversifikasi energi, meningkatkan cadangan devisa, dan menegosiasikan kontrak minyak jangka panjang yang lebih menguntungkan.
Meskipun situasi tampak positif, Menkeu mengingatkan bahwa risiko geopolitik tetap ada dan bahwa fluktuasi harga minyak dapat kembali muncul jika ketegangan di wilayah tersebut meningkat kembali.