Setapak Langkah – 21 April 2026 | Kelompok Tani (Poktan) GSG 07 yang berada di wilayah Kembangan, Jakarta Barat, mulai mengimplementasikan serangkaian langkah antisipatif menghadapi prediksi kemarau panjang yang diproyeksikan akan datang lebih awal tahun ini. Dengan mengacu pada data meteorologi serta rekomendasi Dinas Pertanian Provinsi DKI Jakarta, para petani menyiapkan strategi yang mencakup pengelolaan air, pemilihan varietas tanaman, serta peningkatan kapasitas anggota.
Pengelolaan Air dan Penyimpanan
Untuk mengatasi kurangnya curah hujan, Poktan GSG 07 membangun tiga sumur resapan dan memperluas dua kolam penampungan air hujan seluas total 1.200 meter persegi. Air yang terkumpul dialirkan ke sistem irigasi tetes (drip irrigation) yang dipasang di lahan sayuran seluas 2,5 hektar.
- Sumur resapan berkapasitas 5.000 liter per hari.
- Kolam penampungan dapat menampung hingga 150.000 liter air.
- Sistem drip irrigation menghemat hingga 40% penggunaan air dibandingkan metode tradisional.
Pemilihan Tanaman Toleran Kekeringan
Anggota Poktan melakukan rotasi tanaman dengan menanam varietas yang lebih tahan terhadap kondisi kering, seperti kacang hijau, jagung manis, dan beberapa jenis sayuran daun yang memiliki siklus pertumbuhan singkat. Berikut tabel singkat mengenai tanaman yang dipilih beserta kebutuhan air rata‑rata per hari.
| Tanaman | Kebutuhan Air (liter/ha/hari) |
|---|---|
| Kacang Hijau | 2.800 |
| Jagung Manis | 3.200 |
| Bayam | 2.500 |
Peningkatan Kapasitas Anggota
Kelompok melakukan pelatihan mengenai teknik irigasi efisien, pemupukan berimbang, dan penggunaan pupuk organik. Selama tiga bulan terakhir, 25 anggota telah mengikuti workshop yang dipandu oleh tenaga ahli pertanian dari Dinas Pertanian DKI Jakarta.
Selain itu, Poktan GSG 07 menggalang dana bersama pemerintah daerah melalui program Bantuan Penyediaan Sarana Pertanian (BPSP). Bantuan tersebut meliputi subsidi pompa air tenaga surya dan penyediaan bibit unggul.
Dengan persiapan tersebut, diharapkan produksi pertanian di wilayah Kembangan tetap stabil meski menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan lokal.