Setapak Langkah – 04 Juni 2026 | Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus meningkat meski kedua pihak baru-baru ini menandatangani gencatan senjata yang bersifat sementara. Analisis terbaru menunjukkan lima faktor utama yang membuat perdamaian permanen di antara keduanya tampak jauh dari jangkauan, sekaligus memperkuat kemungkinan Tehran mengembangkan senjata nuklir.
- Perbedaan kepentingan strategis yang mendasar. AS menuntut pembatasan program nuklir Iran, sementara Tehran menganggap hak pengembangan teknologi nuklir sebagai kedaulatan nasional.
- Pengaruh regional yang bersaing. Kedua negara bersaing untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah, khususnya di Suriah, Yaman, dan Irak, yang memicu konflik kepentingan berkelanjutan.
- Sanksi ekonomi yang terus berlanjut. Sanksi yang dijatuhkan oleh AS dan sekutunya menimbulkan tekanan ekonomi berat pada Iran, memaksa pemerintah Tehran mencari alternatif, termasuk pengembangan senjata strategis.
- Kurangnya kepercayaan diplomatik. Sejak penarikan perjanjian nuklir 2015 (JCPOA), kedua belah pihak saling meragukan niat masing‑masing, sehingga setiap upaya negosiasi mudah terhambat oleh tuduhan‑tuduhan saling menipu.
- Tekanan domestik di dalam negeri. Pemerintahan AS dan Iran masing‑masing menghadapi tekanan politik internal yang menuntut sikap keras terhadap lawan, sehingga kompromi menjadi pilihan yang tidak populer.
Dengan kelima hambatan tersebut, prospek tercapainya perdamaian menyeluruh tampak sangat kecil. Sementara itu, Tehran terus memperkuat program nuklirnya sebagai upaya menyeimbangkan posisi tawar dalam negosiasi yang tidak menentu. Jika tekanan internasional tidak berkurang, kemungkinan Iran berhasil memperoleh kemampuan nuklir semakin besar, menambah ketegangan keamanan regional dan global.