Setapak Langkah – 25 Agustus 2026 | Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menjadi tantangan besar bagi Indonesia selama beberapa dekade terakhir. Tingginya intensitas kebakaran, terutama pada musim kemarau, menimbulkan kerusakan lingkungan, kesehatan, serta beban ekonomi yang signifikan. Menanggapi hal tersebut, Presiden Prabowo mengusulkan inovasi yang belum pernah diterapkan secara luas: penggunaan tepung ubi dan singkong sebagai bahan utama dalam teknik “Ubi Bombing“.
Berbeda dengan water bombing konvensional yang mengandalkan curah hujan buatan, “Ubi Bombing” memanfaatkan sifat fisik tepung ubi dan singkong yang dapat menutupi permukaan bahan bakar (daun kering, ranting) secara cepat. Ketika tepung ini bersentuhan dengan api, partikel-partikelnya membentuk lapisan tipis yang memutus aliran oksigen dan menurunkan suhu secara lokal, sehingga memadamkan api lebih efisien.
Berikut adalah mekanisme kerja dan tahapan penerapan “Ubi Bombing”:
- Pengolahan bahan baku: Ubi jalar dan singkong diproses menjadi tepung halus menggunakan mesin penggiling industri, kemudian dicampur dengan bahan pengikat alami untuk meningkatkan daya rekat.
- Penyemprotan: Tepung yang telah dipersiapkan dimuat ke dalam pesawat atau helikopter khusus, kemudian disemprotkan ke area yang terbakar dengan tekanan tinggi.
- Reaksi termal: Partikel tepung menyebar merata, menutup permukaan bahan bakar, mengurangi ketersediaan oksigen, serta menurunkan suhu hingga titik di bawah ambang pembakaran.
- Pengendalian lanjutan: Setelah api padam, tim pemadam melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada percikan kembali, dan melakukan pembersihan sisa tepung bila diperlukan.
Keunggulan utama teknik ini antara lain:
- Efisiensi air: Mengurangi kebutuhan air secara drastis, sangat penting di wilayah yang mengalami kekeringan.
- Biaya operasional: Tepung ubi dan singkong dapat diproduksi secara lokal, menurunkan biaya logistik dibandingkan penggunaan air bersih atau bahan kimia khusus.
- Dampak lingkungan: Bahan baku bersifat biodegradable, tidak meninggalkan residu berbahaya bagi tanah dan flora pasca‑pemadaman.
- Kecepatan aksi: Penyebaran partikel yang cepat memungkinkan penanggulangan kebakaran pada fase awal, sebelum api menyebar luas.
Para ahli agrikultur dan kebakaran hutan memberikan dukungan terhadap inisiatif ini. Dr. Agus Santoso, pakar kebakaran hutan, mencatat bahwa sifat higroskopis tepung ubi dapat menyerap kelembaban dari udara, menambah efektivitas pemadaman pada kondisi kering. Sementara itu, Bappenas menyiapkan skema pendanaan bagi petani lokal yang akan memproduksi tepung ini, sehingga program juga berpotensi meningkatkan pendapatan sektor pertanian.
Pemerintah telah merencanakan pilot project di tiga provinsi rawan kebakaran: Riau, Kalimantan Tengah, dan Lampung. Pada fase pertama, pesawat pemadam yang dilengkapi dengan hopper khusus akan melakukan uji coba pada area kecil yang terdeteksi kebakaran dini. Hasil evaluasi akan menjadi dasar skala nasional.
Jika berhasil, “Ubi Bombing” dapat menjadi solusi yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia, menggabungkan ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi petani, dan mitigasi risiko kebakaran hutan dalam satu paket inovatif.