Setapak Langkah – 30 Juli 2026 | Seorang peneliti dari Akademi Diplomatik Anwar Gargash yang berlokasi di Uni Emirat Arab menekankan pentingnya memperluas ruang lingkup Perjanjian Hormuz agar mencakup semua negara pesisir yang memiliki kepentingan strategis di Selat Hormuz. Menurutnya, kesepakatan yang eksklusif hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu dan berpotensi menimbulkan ketegangan geopolitik.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, merupakan jalur pelayaran utama bagi lebih dari tiga perempat minyak mentah dunia. Karena letaknya yang sempit dan kedekatannya dengan wilayah-wilayah yang memiliki klaim tumpang tindih, keamanan dan kelancaran lalu lintas kapal menjadi isu sensitif bagi negara-negara di sekitarnya.
Peneliti tersebut menguraikan tiga alasan utama mengapa perjanjian harus bersifat inklusif:
- Keamanan kolektif: Semua negara pesisir memiliki tanggung jawab bersama untuk mencegah insiden militer atau terorisme yang dapat mengganggu arus perdagangan.
- Kepastian hukum: Dengan melibatkan seluruh pihak terkait, perjanjian dapat menyediakan kerangka hukum yang jelas mengenai hak lintas, zona ekonomi eksklusif, dan penegakan aturan maritim.
- Stabilitas ekonomi: Negara‑negara pengekspor minyak serta negara‑negara transit akan merasakan manfaat dari kepastian operasional, mengurangi fluktuasi harga energi global.
Selain itu, peneliti menyoroti perlunya mekanisme penyelesaian sengketa yang transparan, serta forum dialog reguler yang melibatkan perwakilan pemerintah, industri pelayaran, dan lembaga internasional seperti International Maritime Organization (IMO).
Ia juga mengingatkan bahwa pendekatan eksklusif dapat memicu rasa tidak adil di antara negara‑negara yang tidak dilibatkan, yang pada gilirannya dapat memperparah persaingan geopolitik di wilayah Teluk. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar perjanjian baru atau revisi perjanjian yang ada mengadopsi prinsip “semua orang, semua suara”.
Jika rekomendasi ini diimplementasikan, diharapkan Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur strategis bagi energi, tetapi juga contoh keberhasilan kerjasama multilateral dalam mengelola ruang laut yang vital bagi keamanan dan kesejahteraan global.