Setapak Langkah – 20 Juli 2026 | Seorang analis militer asal Israel yang berbasis di Inggris, Alon Mizrahi, baru-baru ini menyatakan bahwa serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat menandai sebuah perubahan paradigma dalam sejarah konflik militer. Menurutnya, Washington kini menghadapi lawan yang memiliki kemampuan militer yang terorganisir dan modern, sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Mizrahi menyoroti bahwa Iran telah mengembangkan struktur militer yang lebih terkoordinasi, memanfaatkan teknologi terbaru, serta menyesuaikan taktiknya dengan standar negara adidaya. Ia menambahkan bahwa efektivitas operasional Republik Islam dalam menghadapi Amerika Serikat tidak dapat diremehkan.
Berikut empat alasan utama yang menjadi dasar penilaian Mizrahi:
- Peningkatan Kualitas Alutsista: Iran telah berinvestasi besar-besaran dalam modernisasi persenjataan, termasuk roket balistik, drone, dan sistem pertahanan udara yang lebih canggih. Hal ini memberi mereka keunggulan taktis dalam konflik konvensional maupun asimetris.
- Strategi Jaringan Regional: Tehran memperkuat aliansi dengan kelompok militer dan paramiliter di kawasan, seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi milik Suriah. Dukungan ini memungkinkan Iran untuk memperluas jangkauan operasionalnya secara lintas batas.
- Penggunaan Taktik Asimetris: Iran menggabungkan operasi siber, perang informasi, dan serangan tidak konvensional lainnya untuk melumpuhkan sistem pertahanan lawan tanpa terlibat dalam pertempuran terbuka yang mahal.
- Motivasi Politik dan Ekonomi: Tekanan internasional dan sanksi membuat Iran berupaya menunjukkan kekuatan militer sebagai alat diplomasi, sekaligus melindungi kepentingan ekonomi penting, termasuk jalur energi strategis.
Penilaian tersebut menegaskan bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat kini berada pada level yang lebih kompleks, dengan kedua pihak harus mempertimbangkan dampak strategis yang lebih luas, baik di wilayah Timur Tengah maupun panggung global.