Setapak Langkah – 14 Juli 2026 | Pasar valuta Indonesia kembali berada di bawah tekanan setelah dolar Amerika Serikat (USD) menguat dalam beberapa minggu terakhir. Penguatan ini dipicu oleh kombinasi kebijakan moneter Federal Reserve yang tetap hawkish, data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan, serta ketegangan geopolitik yang meningkatkan permintaan aset safe‑haven.
Sebagai akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar bergerak melemah, mencatat penurunan sekitar 1,2 % dalam dua hari terakhir, dari Rp15.300 menjadi sekitar Rp15.500 per USD. Data historis terbaru menunjukkan tren penguatan dolar yang konsisten sejak awal kuartal ketiga, dengan indeks DXY naik ke level tertinggi sejak tahun 2022.
Di sisi domestik, pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan hukum yang melibatkan mantan pejabat Kementerian Keuangan, Febrie Adriansyah. Febrie, mantan Direktur Jenderal Pajak, kini sedang diperiksa atas dugaan korupsi terkait proyek infrastruktur. Kasus ini menambah ketidakpastian politik‑ekonomi, memperkuat persepsi risiko di kalangan investor asing dan domestik.
Berikut rangkuman faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar:
- Penguatan dolar AS: Kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve dan data ekonomi kuat.
- Ketegangan global: Konflik di Timur Tengah serta ketegangan perdagangan antara AS‑China meningkatkan volatilitas.
- Isu hukum domestik: Kasus korupsi Febrie Adriansyah menimbulkan kekhawatiran akan potensi dampak kebijakan fiskal dan reformasi perpajakan.
Berikut tabel pergerakan nilai tukar rupiah dalam seminggu terakhir:
| Tanggal | USD/IDR |
|---|---|
| 10 Jul 2026 | 15.300 |
| 11 Jul 2026 | 15.350 |
| 12 Jul 2026 | 15.420 |
| 13 Jul 2026 | 15.470 |
| 14 Jul 2026 | 15.500 |
Analisis para ekonom mengindikasikan bahwa jika dolar terus menguat dan situasi hukum domestik tidak segera mereda, tekanan pada rupiah dapat berlanjut hingga akhir tahun. Namun, kebijakan intervensi Bank Indonesia, seperti penjualan devisa atau penyesuaian suku bunga, dapat menahan depresiasi lebih lanjut.
Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan kebijakan moneter AS, indikator inflasi global, serta hasil penyelidikan korupsi yang dapat memengaruhi persepsi risiko di pasar domestik.