Setapak Langkah – 23 Juni 2026 | Pengamat politik Hendri Satrio menyoroti pentingnya memperhatikan suara‑suara yang muncul di ruang publik, termasuk aksi‑aksi mahasiswa, sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Menurutnya, aspirasi masyarakat bukan sekadar opini melainkan data sosial yang dapat mengungkap kebutuhan riil dan potensi risiko yang belum terdeteksi.
Satrio mencontohkan beberapa contoh demonstrasi dan diskusi daring yang menyoroti isu‑isu seperti kenaikan harga pangan, pengangguran muda, dan ketidakpastian usaha mikro. Ia berpendapat bahwa jika pemerintah dapat memetakan pola‑pola keluhan tersebut, maka kebijakan fiskal dan moneter dapat disesuaikan sehingga lebih responsif.
Beberapa poin utama yang diusulkan antara lain:
- Mengintegrasikan analisis media sosial ke dalam lembaga survei resmi untuk mengidentifikasi tren aspirasi.
- Menjalin forum dialog rutin antara perwakilan mahasiswa, pelaku usaha kecil, dan pejabat kebijakan.
- Menggunakan data partisipasi publik sebagai indikator dalam evaluasi kebijakan ekonomi jangka pendek.
Selain itu, Satrio menekankan perlunya transparansi dalam proses pengambilan keputusan. Ia mengajak semua pemangku kepentingan untuk melihat aspirasi publik tidak sekadar sebagai kritik, melainkan sebagai masukan konstruktif yang dapat meningkatkan legitimasi kebijakan.
Dengan mengadopsi pendekatan ini, diharapkan kebijakan ekonomi Indonesia dapat lebih adaptif terhadap dinamika sosial, mengurangi kesenjangan, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.