Setapak Langkah – 22 Juni 2026 | Setiap tahun, MSCI (Morgan Stanley Capital International) melakukan review indeks pasar saham global untuk menilai kualifikasi negara‑negara masuk dalam kategori Emerging Market. Pada Review 2026, para pengamat pasar modal menilai bahwa Indonesia masih memenuhi syarat untuk tetap berada di grup tersebut, meski terdapat tekanan makro‑ekonomi dan volatilitas global.
Hans Kwee, Managing Director PT Danareksa Sekuritas, menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia akan terus bertahan di Emerging Market MSCI berkat fundamental ekonomi yang kuat, reformasi kebijakan, serta likuiditas pasar saham yang relatif tinggi. Menurutnya, 11 saham unggulan menjadi penopang utama yang dapat menarik aliran dana internasional.
Berikut adalah 11 saham yang diprediksi menjadi motor penggerak utama indeks Indonesia pada tahun 2026:
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
- Bank Central Asia (BBCA)
- Telekomunikasi Indonesia (TLKM)
- Bank Mandiri (BMRI)
- Unilever Indonesia (UNVR)
- Gudang Garam (GGRM)
- PT Astra International (ASII)
- Bank Negara Indonesia (BBNI)
- Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP)
- Jasa Marga (JSMR)
- Adaro Energy (ADRO)
Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan utama dalam penilaian MSCI meliputi:
| Aspek | Kriteria |
|---|---|
| Likuiditas pasar | Volume perdagangan harian rata‑rata > 250 juta USD |
| Pertumbuhan ekonomi | GDP tahunan > 4 % |
| Kebijakan fiskal & moneter | Stabilitas inflasi di bawah 5 % |
| Struktur pasar | Proporsi saham domestik > 70 % dalam indeks MSCI |
Hans Kwee menekankan pentingnya strategi diversifikasi bagi investor domestik dan asing. Ia menyarankan alokasi portofolio yang mencakup sektor keuangan, konsumer, infrastruktur, dan energi terbarukan. Selain itu, ia menyoroti perlunya peningkatan tata kelola perusahaan serta transparansi laporan keuangan untuk meningkatkan kepercayaan investor institusional.
Dengan reformasi regulasi pasar modal yang terus digulirkan, seperti penyederhanaan prosedur IPO dan peningkatan akses data pasar, Indonesia berada pada posisi yang menguntungkan untuk mempertahankan status Emerging Market. Jika kondisi tersebut tetap terjaga, aliran dana asing yang mengincar diversifikasi portofolio ke pasar Asia Tenggara diprediksi akan tetap mengalir, mendukung likuiditas dan stabilitas harga saham.