Setapak Langkah – 16 Juni 2026 | Baru-baru ini, perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran diumumkan, menimbulkan reaksi keras di Israel. Banyak pengamat politik, termasuk komentator Israel Gideon Levy, menilai langkah ini sebagai pukulan berat bagi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, baik secara politik maupun strategis.
Berikut tiga alasan utama mengapa kesepakatan tersebut dianggap sebagai simbol kekalahan bagi Netanyahu:
- Pengurangan tekanan diplomatik terhadap Iran. Dengan dukungan Washington, Iran memperoleh legitimasi internasional yang lebih besar, sehingga Israel kehilangan satu jalur utama untuk menekan Tehran melalui sanksi dan isolasi.
- Peningkatan posisi tawar Iran di Timur Tengah. Kesepakatan damai memungkinkan Iran memperluas pengaruhnya di kawasan, khususnya di Suriah, Lebanon, dan wilayah Teluk, yang pada gilirannya memperlemah kebijakan luar negeri Netanyahu yang selama ini menekankan ancaman Iran.
- Keretakan dukungan domestik Netanyahu. Di dalam negeri, koalisi politik Netanyahu sudah rapuh. Kegagalan menghalangi Iran menambah kritik dari partai-partai oposisi dan publik, mempercepat potensi pemberontakan dalam koalisi serta menurunkan popularitasnya menjelang pemilihan legislatif berikutnya.
Gideon Levy menegaskan bahwa kesepakatan ini bukan sekadar perubahan kebijakan luar negeri Amerika, melainkan menandakan perubahan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah yang berpotensi merubah strategi keamanan Israel secara fundamental.
Jika tren ini berlanjut, Israel mungkin harus menyesuaikan pendekatan militernya, memperkuat aliansi regional lain, atau mencari jalur diplomatik baru untuk tetap menjaga kepentingan keamanan nasionalnya.