Setapak Langkah – 01 Juni 2026 | Serangkaian pemadaman listrik yang melanda beberapa provinsi di Pulau Sumatra sejak awal minggu ini memicu keprihatinan luas. Organisasi IRESS (Institute for Renewable Energy and Sustainable Solutions) menyoroti bahwa masalah bukan sekadar kegagalan pasokan sementara, melainkan indikasi kelemahan struktural pada jaringan listrik nasional.
- Penjaminan pasokan listrik 24 jam dengan frekuensi gangguan minimal.
- Peningkatan kapasitas pembangkit dan transmisi di wilayah Sumatera.
- Implementasi sistem manajemen beban yang cerdas.
- Transparansi dalam proses evaluasi dan pelaporan gangguan.
IRESS menuntut evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rantai pasokan energi, mulai dari pembangkit, transmisi, distribusi, hingga sistem pemeliharaan. Organisasi tersebut menekankan perlunya investasi tambahan, khususnya dalam energi terbarukan, untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit konvensional yang rentan terhadap gangguan.
Selain itu, IRESS mengusulkan pembentukan tim independen yang dapat memantau kinerja PLN secara real‑time dan memberikan rekomendasi kebijakan berbasis data. Tim tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi titik lemah jaringan secara cepat, sehingga perbaikan dapat dilaksanakan sebelum gangguan meluas.
Pemerintah pusat dan daerah diharapkan menyelaraskan kebijakan serta alokasi anggaran untuk mempercepat modernisasi infrastruktur listrik. Tanpa langkah konkrit, masyarakat akan terus menghadapi risiko kehilangan produktivitas dan peningkatan biaya hidup akibat penggunaan generator pribadi yang tidak efisien.
Dengan menekankan pentingnya listrik yang andal, IRESS berharap kejadian serupa tidak terulang, dan warga Sumatera dapat menikmati layanan energi yang mendukung pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan sosial.