Setapak Langkah – 27 Mei 2026 | Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat China, Djauhari Oratmangun, menegaskan bahwa ketegangan geopolitik yang semakin intens menuntut Indonesia dan China untuk memperkuat kemitraan strategis. Dalam konferensi pers yang diadakan pada awal minggu ini, ia menyoroti perubahan lanskap politik‑ekonomi global, termasuk persaingan antara kekuatan Barat dan Timur, serta implikasinya bagi kepentingan nasional kedua negara.
Djauhari menyampaikan bahwa Indonesia berada pada posisi strategis sebagai negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara, sekaligus menjadi jalur utama perdagangan lintas‑benua. Ia menekankan bahwa stabilitas kawasan sangat bergantung pada kerja sama yang saling menguntungkan, terutama dalam bidang energi, infrastruktur, teknologi, dan perdagangan.
Berikut beberapa bidang yang dianggap krusial oleh Duta Besar:
- Energi dan sumber daya alam – China menjadi mitra utama dalam proyek‑proyek energi terbarukan dan pengolahan sumber daya alam di Indonesia.
- Infrastruktur – Inisiatif Belt and Road (BRI) terus membuka peluang investasi dalam pembangunan pelabuhan, jalan raya, dan jaringan kereta api.
- Teknologi dan inovasi – Kolaborasi dalam industri 5G, kecerdasan buatan, dan digitalisasi ekonomi dipandang dapat mempercepat transformasi digital Indonesia.
- Perdagangan – Volume perdagangan bilateral terus meningkat, menjadikan China mitra dagang terbesar Indonesia.
Data perdagangan bilateral tahun 2023 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, seperti tercermin pada tabel berikut:
| Tahun | Ekspor Indonesia ke China (USD Miliar) | Impor Indonesia dari China (USD Miliar) |
|---|---|---|
| 2021 | 28,7 | 85,3 |
| 2022 | 30,2 | 89,6 |
| 2023 | 31,5 | 94,1 |
Selain aspek ekonomi, Djauhari menambahkan bahwa kerja sama dalam bidang pendidikan, budaya, dan pertukaran manusia juga menjadi pilar penting. Program beasiswa, pelatihan teknis, serta kegiatan kebudayaan diharapkan dapat mempererat hubungan antar‑bangsa dan meningkatkan pemahaman bersama.
Dalam menanggapi dinamika geopolitik, Djauhari mengingatkan bahwa Indonesia tetap berpegang pada prinsip non‑blok, menjaga kemandirian kebijakan luar negeri, namun tidak menutup diri terhadap kolaborasi yang bersifat win‑win. Ia menutup dengan harapan bahwa kedua negara dapat terus menjalin dialog konstruktif untuk mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, keamanan maritim, dan stabilitas ekonomi.